Seminar Kolaboratif Cegah Radikalisme di UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Densus 88 Hadirkan Gus Najih

Create: Fri, 10/10/2025 - 12:13
Author: Admin 3


Bengkulu – Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Bengkulu Densus 88 Antiteror Polri bekerja sama dengan Badan Kesbangpol Provinsi Bengkulu dan Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu menggelar Seminar Nasional Kolaboratif Agama dan Radikalisme bertema “Sinergi dalam Menangkal Ideologi Radikal di Era Digital”, Kamis (9/10/2025).

Kegiatan yang berlangsung di Aula Prof. Dr. KH. Djamaan Nur UIN FS Bengkulu ini menghadirkan narasumber Dr. Muhammad Najih Arromadloni (Gus Najih), tokoh Nahdlatul Ulama sekaligus akademisi yang dikenal aktif dalam gerakan moderasi beragama.

Seminar dibuka secara resmi oleh Rektor UIN FS Bengkulu Prof. Dr. Zulkarnain Dali dan diikuti sekitar 250 peserta dari kalangan mahasiswa, dosen, dan unsur pemerintah daerah. Turut hadir perwakilan Kasatgaswil Densus 88 AT Polri melalui Katim Pencegahan.

Dalam sambutannya, Katim Pencegahan Densus 88 AT Bengkulu menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk sinergi lintas lembaga dalam memperkuat pencegahan radikalisme dan memperluas pemahaman tentang pentingnya moderasi beragama di kalangan generasi muda.

Sementara itu, Rektor UIN FS Bengkulu Prof. Zulkarnain menegaskan, isu radikalisme dan terorisme bukanlah hal baru, namun di era digital penyebarannya semakin masif dan perlu diwaspadai bersama.

Pada sesi utama, Gus Najih memaparkan fenomena global terorisme yang kerap mengatasnamakan agama. Ia menjelaskan bahwa tren radikalisme sudah berkembang sejak tahun 1960-an dan banyak merujuk pada tokoh-tokoh ideologis seperti Sayyid Quthb, yang karya-karyanya kerap dikutip tanpa pemahaman konteks yang utuh.

“Banyak mahasiswa yang mengutip pemikiran Sayyid Quthb tanpa mengetahui bahwa beliau menjadi rujukan bagi kelompok ekstrem di Mesir dan dihukum mati karena terlibat jaringan terorisme. Buku-bukunya populer di banyak kampus Islam, padahal pemahamannya perlu disaring secara kritis,” jelas Gus Najih.

Ia juga menyoroti bahwa radikalisme tidak selalu berlatar belakang agama. “Ada juga kelompok radikal dengan ideologi kiri seperti anarko yang anti terhadap pemerintah dan tatanan sosial. Ini juga bentuk ekstremisme yang berbahaya,” tambahnya.

Gus Najih menegaskan bahwa radikalisme lahir dari kedangkalan beragama, bukan dari ketaatan. “Orang yang mendalami agama dengan benar tidak akan menjadi radikal, karena agama mengajarkan kasih sayang dan kebaikan. Islam itu rahmatan lil alamin,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya memperkuat wawasan kebangsaan dan keagamaan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh propaganda kelompok ekstrem. “Kita harus paham hubungan antara agama dan negara. Menjaga negara berarti juga menjaga agama. Tanpa negara, kita tidak bisa beribadah dengan aman,” tegasnya.

Menutup paparannya, Gus Najih mengajak civitas akademika UIN dan masyarakat Bengkulu untuk bersama-sama menjaga citra Islam yang damai serta memperkuat peran kampus sebagai benteng moderasi beragama dan nasionalisme.