Rejang Lebong, ewarta.co - Ahmad Hijazi merasa sosialisasi Pemilu 2019 kurang maksimal, sehingga kalangan tertentu di masyarakat kebingungan untuk menyalurkan hak pilihnya.
“Saya sering turun hingga ke desa, menerima berbagai keluhan masyarakat akan kondisi itu,” kata Bupati di sela-sela Coffe Morning Tim Monitoring Pemilu di Kantor Kesbangpol Rejang Lebong, Jumat (13/4).
Misalnya, pemilih kalangan disabilitas, banyak yang tidak mengetahui tata cara memilih.
Golongan tuna netra dan tuna aksara masih ada sekitar 40 persen dipedesaan. Selain itu, banyak Caleg yang dikenal dengan nama panggilan atau alias. Padahal di suara tidak dicantumkan nama panggilan tersebut.
“Bawaslu belum terlihat kinerjanya, hanya kegiatan di hotel terus di upload di Medsos. Padahal banyak dugaan pelanggaran yang harus didalami,” tutur Bupati.
Sementara itu Ketua KPU Kabupaten Rejang Lebong, Restu Wibowo mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan sosialisasi pada semua segmen masyarakat.
“Telah juga membentuk relawan demokrasi, yang bertugas melakukan sosialisasi berbagai segmen,” ujarnya.
Beberapa even yang melibatkan orang banyak telah digelar, selain bersosialisasi langsung dengan masyarakat, juga lewat media massa.
Untuk pemilih disabilitas ada perlakuan khusus, diantaranya dengan menggunakan kertas suara templete dan ada form pendampingan.
Coffe Morning Tim Monitoring Pemilu 2019, yang dihadiri Bupati Rejang Lebong Ahmad Hijazi, Wabup Iqbal Bastari, Ketua KPU Restu Wibowo, Anggota Bawaslu Novry Arianas, Mewakili Kapolres Kasat Reskrim Polres Rejang Lebong AKP Jery A Nainggolan, Kasie Intel Kajari Rejang Lebong Richard Sembiring, Kasiops Kodim 0409/RL Kapt. Bambang. Kasat Reskrim Polres Rejang Lebong juga mengatakan bahwa kesuksesan Pemilu 2019 merupakan tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat.
“Secara umum kondisi Kamtibmas aman dan Polres akan menurunkan sekitar 285 anggota dalam pengamanan Pemilu, belum termasuk pelibatan satuan lainnya,” tutup Kasatres. (DD)









