Karya Kreatif Indonesia 2026, UMKM Indonesia Makin Berdaya dan Mendunia

Create: Fri, 28/08/2026 - 11:44
Author: Redaksi

 

JAKARTA, ewarta.co -- Gelaran Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 yang berlangsung pada 20–23 Agustus 2026 di Hall A dan B Jakarta International Convention Center (JICC), resmi ditutup oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman. Penyelenggaraan KKI 2026 merupakan bentuk komitmen Bank Indonesia (BI) dalam mengembangkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) demi mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

​KKI 2026 diikuti oleh 560 UMKM secara luring dan 1.860 UMKM pameran secara daring melalui platform digital www.karyakreatifindonesia.co.id. Acara ini menampilkan beragam produk unggulan, mulai dari wastra, ready-to-wear, makanan dan minuman, home decor, hingga karya kreatif generasi muda.

​Kegiatan ini melibatkan lebih dari 27 kementerian, 24 asosiasi, praktisi, akademisi, influencer, serta sektor perbankan. KKI 2026 mencatatkan nilai penjualan sebesar Rp144,2 miliar, business matching senilai Rp169,9 miliar antara 192 UMKM dengan 16 negara, serta alokasi pembiayaan dari perbankan ke UMKM mencapai Rp285 miliar.

​Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, menyampaikan apresiasinya atas capaian tersebut di tengah kondisi global yang penuh tantangan. KKI 2026 memperkuat pengembangan UMKM yang berorientasi pada dampak melalui kolaborasi, penguatan ekosistem dari hulu ke hilir, inovasi merek lokal generasi muda, dan penerapan prinsip keberlanjutan. KKI tidak hanya menjadi ruang promosi dan transaksi, tetapi juga wadah peningkatan kapasitas, perluasan akses pasar, serta percepatan pembiayaan agar UMKM naik kelas.

​"Setiap tahun, dengan penuh rasa syukur kami mengadakan KKI agar UMKM Indonesia bisa terus tumbuh, tangguh, dan berdaya saing. Namun, UMKM perlu memiliki ekosistem dengan tujuan berkelanjutan agar keberdayaan ini terus berlangsung," ujar Aida saat seremoni penutupan KKI 2026 di JICC, Jakarta (23/8).

​Tantangan pembiayaan UMKM tidak semata terkait ketersediaan dana, melainkan juga kesiapan usaha, persepsi risiko, serta kemampuan menghubungkan UMKM dengan lembaga keuangan. Untuk itu, Bank Indonesia memperkuat pengembangan UMKM dari hulu ke hilir melalui peningkatan kapasitas usaha, penguatan rekam jejak keuangan, peningkatan visibilitas, dan perluasan akses pasar.

​"Bank Indonesia berperan sebagai katalis dalam memperkuat pembiayaan UMKM dari sisi supply dan demand," terang Aida.

​Dari sisi supply, Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) memberikan insentif kepada perbankan yang menyalurkan pembiayaan ke UMKM. Selain itu, Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) turut mendorong perluasan pembiayaan inklusif. Dari sisi demand, digitalisasi pembayaran memanfaatkan QRIS guna membangun rekam jejak usaha.

​"Penguatan ekosistem pembiayaan UMKM ke depan memerlukan komitmen yang konsisten, inovasi yang adaptif, serta sinergi yang makin erat antara Bank Indonesia, Pemerintah, sektor keuangan, dan pemangku kepentingan lainnya," pungkas Aida.

​Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, dengan dukungan Dekranasda dan Dharma Wanita Provinsi Bengkulu, turut mendorong partisipasi UMKM daerah dalam KKI 2026. Sebanyak 32 UMKM berpartisipasi secara daring dan 6 UMKM secara luring, mencatatkan total penjualan daring sebesar Rp1,195 miliar dan penjualan luring Rp49,20 juta.

​Capaian strategis lainnya diperoleh melalui kegiatan Business Matching. UMKM Kopi Bukit Barisan berhasil menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan Indonesia Specialty Coffee untuk pemesanan greenbean Kopi Robusta Bengkulu sebanyak 500 kg dengan nilai kontrak awal Rp35,5 juta. Selain itu, UMKM kuliner CV Jaya Rasa berhasil mengamankan kontrak sebanyak 500 bungkus camilan tradisional Perut Punai senilai USD 1.500 untuk pasar Afrika Selatan.

​"Capaian concret melalui fasilitasi business matching ekspor pada KKI 2026 ini sangat menjanjikan. Produk UMKM Bengkulu terbukti dapat diterima oleh pasar luar negeri. Ini membuktikan bahwa UMKM Bengkulu layak bersaing dan bersanding dengan UMKM lain di Indonesia untuk Go Global," ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat.

​KPw BI Provinsi Bengkulu mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat optimisme dan kolaborasi. Sinergi berkelanjutan antara korporasi, perbankan, dan pelaku usaha di daerah diyakini mampu membangun ekosistem usaha yang kondusif sekaligus menjadi penggerak utama ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan. (**)