Bengkulu, eWarta.co – Universitas Bengkulu (UNIB) terus memperkuat komitmennya dalam menciptakan lingkungan kampus yang sehat dan inklusif melalui peningkatan layanan kesehatan mental bagi sivitas akademika.
Sebagai upaya mengantisipasi berbagai persoalan kesehatan mental yang dapat dialami mahasiswa, dosen, maupun tenaga kependidikan, Unit Penunjang Akademik Bimbingan dan Konseling (UPA-BK) Universitas Bengkulu menggelar Workshop Pengayaan Program Bimbingan dan Konseling, Rabu (17/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di lingkungan kampus UNIB tersebut menghadirkan narasumber Prof. Drs. Adi Fahrudin, S.Psi., M.Soc.Sc., Ph.D., Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Esa Unggul Jakarta sekaligus Profesor Pekerjaan Sosial pertama di Indonesia.
Workshop ini diikuti sekitar 80 peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta perwakilan dari sejumlah perguruan tinggi di Bengkulu, di antaranya Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Universitas Dehasen Bengkulu, dan Universitas Prof. Dr. Hazairin (UNIHAZ).
Rektor Universitas Bengkulu, Prof. Dr. Indra Cahyadinata, S.P., M.Si., yang membuka kegiatan tersebut menegaskan bahwa kampus bukan hanya tempat belajar dan bekerja, tetapi juga ruang kehidupan yang di dalamnya terdapat berbagai tantangan yang dihadapi oleh sivitas akademika. Menurutnya, layanan bimbingan dan konseling harus dapat diakses tanpa stigma, dikelola secara profesional, serta terus dikembangkan berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan.
“Kegiatan ini sejalan dengan arah dan komitmen kita untuk mewujudkan pembangunan ekosistem Universitas Bengkulu yang sehat, inklusif, dan berdampak,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala UPA-BK Universitas Bengkulu, Yessilia Osira, S.Sos., M.P., menjelaskan bahwa UPA-BK baru berdiri pada tahun 2025 sehingga diperlukan penguatan kapasitas sumber daya manusia yang terlibat dalam layanan konseling.
Melalui workshop ini, peserta mendapatkan pembekalan mengenai dasar-dasar konseling, komunikasi terapeutik, keterampilan mendengar aktif, prinsip dan etika konseling, alur layanan, hingga penyusunan rencana tindak lanjut. Ia berharap materi yang diberikan dapat diterapkan dalam bentuk sikap dan prosedur kerja yang nyata untuk mendukung pelayanan kepada sivitas akademika.
Selain workshop, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Universitas Bengkulu dan Universitas Esa Unggul Jakarta. Kerja sama tersebut diharapkan menjadi landasan bagi pengembangan program bimbingan dan konseling melalui pelatihan lanjutan, supervisi, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan model layanan yang sesuai dengan karakteristik perguruan tinggi dan masyarakat Bengkulu. Melalui kolaborasi tersebut, Universitas Bengkulu optimistis upaya peningkatan kesehatan mental insan akademika dapat semakin optimal dan berkelanjutan.









