BENGKULU, eWarta.co – Tujuh murid SD Negeri 59 Kota Bengkulu diduga mengalami keracunan setelah menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (4/9/2026). Para murid mengalami sejumlah keluhan hingga harus mendapatkan penanganan medis setelah mengonsumsi makanan yang disalurkan ke sekolah.
Peristiwa tersebut terjadi di SDN 59 yang berada di Jalan Bukit Barisan Karabela, Kelurahan Kebun Tebeng, Kecamatan Ratu Agung, Kota Bengkulu. Kasus ini menjadi perhatian karena makanan yang dikonsumsi para murid diduga berkaitan dengan munculnya keluhan kesehatan tersebut.
Kepala SDN 59 Sukmawati, M.Pd., melalui wali kelas, Ningrum, membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia mengatakan makanan MBG yang disalurkan Yayasan Damar Gizi Bangsa tiba di sekolah sekitar pukul 10.00 WIB.
Setelah makanan dibagikan kepada murid, Ningrum kemudian kembali ke kantor dan memeriksa makanan yang disediakan khusus untuk guru. Saat pemeriksaan itu, ia menemukan kejanggalan pada makanan dan langsung melaporkannya kepada kepala sekolah serta operator.
“Setelah makanan dibagikan kepada anak-anak, saya kembali ke kantor dan memeriksa makanan yang ada di omprengan khusus untuk guru. Ternyata ada kejanggalan dan langsung dilaporkan kepada kepala sekolah serta operator,” ujar Ningrum, Jumat (4/9).
Menurut Ningrum, pihak sekolah kemudian mendapat perintah untuk menarik makanan tersebut agar tidak dikonsumsi. Namun, sejumlah murid diketahui sudah terlebih dahulu menyantap makanan yang dibagikan.
Sekitar 15 menit setelah mengonsumsi makanan, sejumlah murid kelas IV mulai mengeluhkan sakit perut, mual, pusing hingga muntah. Sebanyak tujuh murid kemudian dibawa untuk mendapatkan pertolongan medis.
Para murid sempat diarahkan dari puskesmas ke Rumah Sakit Harapan dan Doa (RSHD) Kota Bengkulu untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Kondisi tersebut membuat pihak sekolah mengambil langkah cepat untuk memastikan para murid mendapat perawatan.
Di tengah kejadian tersebut, pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan MBG disebut belum memberikan penjelasan kepada wartawan. Konfirmasi terkait kondisi makanan, proses pengolahan, hingga dugaan penyebab munculnya keluhan pada murid belum diperoleh.
Kasus ini menambah perhatian terhadap distribusi program MBG di Bengkulu, khususnya terkait keamanan dan kualitas makanan yang diterima siswa. Penelusuran lebih lanjut diperlukan untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan yang dialami para murid dan mencegah kejadian serupa kembali terjadi.










