SELUMA,eWarta.co -- Rencana eksploitasi tambang meneral Logam (emas) terus menjadi sorotan anggota DPRD Kabupaten Seluma. Anggota DPRD dari Fraksi PDI Perjuangan, Febrinanda Putra Pratama menyatakan penolakan tegas terhadap aktivitas pertambangan emas di daerah Kabupaten Seluma.
Penolakan ini bukan karena anti-investasi, melainkan karena Seluma dirasa Seluma belum berada pada tahap kematangan sosial, ekologis, dan ekonomi untuk menanggung beban akan keberadaan tambang berskala besar. Ditakutkan kedepannya Kabupaten Seluma akan menjadi lumbung pendapatan oleh pemerintah pusat.
"Sudah terlalu lama daerah seperti Seluma hanya jadi sapi perah. Pajak-pajak dikumpulkan dari seluruh pelosok negeri totalnya lebih dari 2.000 triliun, tapi yang dikembalikan ke daerah hanya sekitar 900 triliun. Kita ini diperah atas nama pembangunan, padahal yang kita terima hanya serpihan janji," Sampainya, Kamis (10/3025).
Dirinya juga belum percaya akan iming-iming Seluma akan menjadi Kabupaten yang maju ataupun berkembang kalau tambang mineral logam di Seluma sudah dibuka, hal ini mengingat saat ini saja Dana Bagi Hasil (DBH) dari pusat dan provinsi yang seharusnya sudah masuk ke Kabupaten Seluma. Hak Kabupaten Seluma akan DBH tahun 2024 saat ini belum dipenuhi oleh pemerintah pusat.
"Silakan tanya ke pemerintah daerah, apakah Dana Bagi Hasil dari pusat senilai 50 miliar untuk tahun 2024 sudah ditransfer penuh, apakah DBH dari provinsi sudah diterima lengkap, Ini sudah bulan Juli, kita mau percaya pada keuntungan tambang, sementara hak kita saja belum jelas, tanyanya.
Pebrinanda berpendapat dan menilai bahwa logika pembangunan yang diseret-seret dalam isu tambang emas hanya akan melanggengkan pola kolonial gaya baru.
"Ingat baik-baik: VOC dulu datang dengan senyum dan perjanjian. Sekarang mereka datang lagi, tapi mengenakan jas rapi, membawa surat izin, dan mengaku investor. Inilah wajah VOC gaya baru. Jangan sampai kita buta dan bisu atas nama kemajuan, " Tuturnya.
Dirinya menegaskan bahwa tambang mineral logam akan menciptakan luka ekologis yang dalam, dan tak sebanding dengan keuntungan sesaat, krusakan lingkungan yang parah, konflik sosial, kemudian juga akan terjadi pergeseran nilai-nilai tradisional.
"Saya anak Seluma. Saya tidak ingin suatu hari nanti anak cucu saya tidak bisa lagi menjaring ikan, tidak bisa mandi di sungai yang jernih, karena alam sudah diganti dengan limbah. Kita ini belum makmur, jangan pula dijadikan korban eksperimen ekonomi yang rakus dan jangka pendek." ucapnya. (Rns)









