Sebulan Tragedi Drag Race Upai 9 Nyawa Melayang Mengapa Belum Ada Tersangka?

Tags

 

KOTAMOBAGU, eWarta.co — Tragedi drag race maut di Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara, hampir genap sebulan. Namun hingga kini, belum satu pun pihak ditetapkan sebagai tersangka.

Balapan yang digelar pada 9 Agustus 2026 itu menelan 9 korban jiwa, sementara 8 korban lainnya masih menjalani perawatan akibat luka berat.

Mobil peserta kelas Free For All (FFA) yang dikemudikan Tian Ngantung menjadi kendaraan yang menghantam penonton di ujung lintasan. Tian telah diperiksa Polda Sulut, terakhir pada 28 Agustus, namun statusnya masih terperiksa/saksi.

Pertanyaannya: apakah tanggung jawab tragedi ini hanya berhenti di balik kemudi?

Event tersebut disebut digagas IMI Sulut, TIDAR dan panitia lokal. Ketua IMI Sulut Rio Dondokambey, Ketua TIDAR Sulut Standius Bara Prima Lumbaa, sementara Ketua Panitia Muhammad M. Sugeha alias Lucky Sugeha.

TIDAR disebut menjadi sponsor utama. Unsur kepanitiaan juga disebut melibatkan anggota IMI, Muda Charaka dan pengurus IMI Kota Kotamobagu.

Nama-nama tersebut tentu tidak otomatis berarti bersalah. Namun penyidik perlu mengurai siapa yang bertanggung jawab atas kelayakan lintasan, posisi penonton, pengamanan dan standar keselamatan sebelum balapan digelar.

Pada 1 September 2026, Ditreskrimsus Polda Sulut juga dijadwalkan memeriksa sejumlah pihak untuk klarifikasi, berdasarkan surat bernomor B/1224/VIII/RES.5./2026/Dit Reskrimsus.

Hingga kini belum ada keterangan resmi mengenai hasil pemeriksaan tersebut.

9 nyawa telah melayang. 8 korban masih berjuang.

Publik kini menunggu satu hal: jika memang ditemukan unsur kelalaian atau pelanggaran hukum, siapa yang akan dimintai pertanggungjawaban?

Karena mengungkap tragedi Upai tidak cukup hanya mencari siapa yang mengemudikan mobil. Seluruh rantai tanggung jawab penyelenggaraan harus dibuka terang.

(Rendy)