BENGKULU, eWarta.co – Rangkaian ritual adat Festival Tabut 1448 Hijriah resmi berakhir melalui prosesi puncak "Tabut Tebuang" di Kompleks Pemakaman Karabela, Kelurahan Kebun Tebeng, Kota Bengkulu, Kamis (25/6/2026).
Prosesi diawali dengan salat Zuhur berjamaah oleh keluarga Kerukunan Tabut (KKT) Bencoolen di Masjid Al Muhajirin, Pasar Melintang. Usai beribadah, sebanyak 17 bangunan Tabut budaya diarak dari kawasan Tugu Dhol menuju Makam Karabela yang berjarak sekitar empat kilometer.
Sebelum inti ritual dimulai, keluarga KKT melakukan ziarah dan doa bersama di makam para tokoh sejarah Tabut, meliputi makam Syekh Imam Sunggolo, Syekh Ampar Batu, Zalmiah Bansal, Khadr Ali, dan Syekh Abdullah.
Juru kunci makam Karabela, Inar, menegaskan bahwa ziarah dan pembacaan doa ini merupakan bagian wajib tahunan untuk menghormati para leluhur pembawa tradisi.
Ketua KKT Bencoolen Bengkulu, Achmad Syafril, meluruskan persepsi masyarakat mengenai istilah "Tebuang" dalam ritual tanggal 10 Muharam ini.
"Tabut Tebuang ini bukan dibakar atau dilarung ke laut. Ini adalah simbol berakhirnya seluruh rangkaian Tabut. Filosofinya adalah membuang segala hal buruk dan pengingat bahwa kemegahan dunia tidak ada yang abadi," ujar Syafril.
Lokasi Pemakaman Karabela dipilih karena memiliki nilai historis kuat, yakni sebagai tempat peristirahatan terakhir Imam Senggolo (Syekh Burhanuddin), tokoh yang membawa tradisi Tabut sekaligus menyebarkan Islam di Bengkulu. Ritual ditutup dengan penyimpanan kembali seluruh perlengkapan sakral Tabut oleh pihak keluarga.
Selain menjadi ajang pelestarian budaya yang memadati jalur kota oleh ribuan warga dan wisatawan, puncak festival ini juga menggerakkan ekonomi lokal melalui kehadiran puluhan pedagang UMKM di sekitar area pemakaman.









