Ratusan Anak di Bengkulu Menderita Talasemia

 

Bengkulu, eWARTA.co -- Ketua Persatuan Orang Tua Penderita Talasemia Indonesia (POPTI) Cabang Bengkulu Eva Afrianti menyebutkan, 130 anak di daerah ini menderita talasemia atau kelainan darah bawaan.

"Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah karena 90 anak lainnya masih belum dilakukan diagnosa screening elektroforesis," kata Eva, Sabtu (25/6/2022).

Eva menuturkan bahwa mayoritas penderita thalassemia membutuhkan transfusi rutin setiap 2 hingga 3 pekan sekali, juga meminum obat kelasi besi seumur hidup. 

"Rumah sakit bagaikan rumah kedua karena memang perawatannya rutin," kata dia.

Thalasemia adalah kelainan darah karena kurangnya hemoglobin yang normal pada sel darah merah. Kelainan ini membuat penderitanya mengalami anemia atau kurang darah. 

"Thalasemia terjadi akibat kelainan genetik yang diturunkan. Artinya, kondisi ini sudah bisa terjadi sejak masa kanak-kanak," ungkapnya. 

Thalassemia menjadi salah satu kondisi kelainan darah yang perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan tubuh tak berfungsi dengan baik.

Pada umumnya, lanjut Eva, gejala awal yang akan muncul adalah gejala anemia, yang menimbulkan keluhan cepat lelah, mudah mengantuk, hingga sesak napas. 

Penyakit thalassemia merupakan penyakit yang manahun, yang dampaknya akan menjadi beban orang tua tidak hanya saja secara materil, tetapi beban psikis luar biasa.

POPTI mengharapkan dukungan berbagai pihak untuk membantu para orang tua yang anaknya memiliki penyakit ini.

“Yang penting transfusi dan minum obat kelasi besi terus dilakukan sesuai rekomendasi. Kami memohon bantuan anak-anak harus meningkatkan diagnosisnya atau screening," tukasnya. (Bisri)