KOTAMOBAGU, eWarta.co — Nama Dedeng Mopangga, yang akrab disapa Umi, belakangan menjadi perhatian setelah namanya ramai diperbincangkan di sejumlah akun media sosial Facebook.
Isu yang beredar menyebut adanya dugaan intimidasi terhadap sejumlah pegiat media sosial. Namun, Dedeng menyampaikan bahwa dirinya tidak bermaksud mengintimidasi siapa pun. Menurutnya, pesan yang disampaikan justru agar pengguna media sosial tidak melihat sebuah persoalan hanya dari satu sisi.
Dedeng juga meminta teman-temannya yang memberikan dukungan kepadanya agar tidak lagi terlibat dalam aksi saling komentar atau menyerang pihak lain di media sosial.
Baginya, perbedaan pandangan tidak harus berujung pada saling menjatuhkan.
TAK HANYA MEMBERI, TAPI IKUT MEMBANGUN
Di balik sorotan media sosial, Dedeng Mopangga dikenal sebagai pengusaha yang juga memberikan perhatian terhadap kegiatan sosial, pendidikan dan keagamaan.
Kepeduliannya antara lain diwujudkan melalui bantuan terhadap pembangunan sejumlah pondok pesantren. Beberapa di antaranya yakni Pondok Pesantren Maulana Muis di Desa Tabang, Ponpes HI Ansor Liberia, serta Ponpes Al-Mukhlasin Gogagoman yang diasuh Ustaz Safrin Taha.
Dukungan tersebut bukan sekadar membantu berdirinya sebuah bangunan. Pesantren merupakan ruang pendidikan, pembinaan generasi muda sekaligus tempat masyarakat memperkuat kehidupan keagamaan.
Karena itu, kontribusi terhadap pesantren memiliki dampak yang dapat dirasakan dalam jangka panjang.
BISNIS BERKEMBANG, KEPEDULIAN TETAP BERJALAN
Dedeng Mopangga sendiri dikenal sebagai pelaku usaha di balik Qrani WO dan RayonCH Konveksi.
Perkembangan usaha tidak membuat aktivitas sosialnya berhenti. Justru, sejumlah kegiatan sosial dan dukungan terhadap masyarakat terus dilakukan di tengah kesibukannya sebagai pengusaha.
Bagi sebagian orang yang mengenalnya, karakter Dedeng terlihat dari keberaniannya menyampaikan sesuatu secara terbuka sekaligus kemauannya untuk berbagi dengan masyarakat.
Pada akhirnya, kesuksesan seorang pengusaha tidak selalu hanya diukur dari aset, omzet atau besarnya usaha.
Ada ukuran lain yang tidak tercatat dalam laporan keuangan: seberapa besar keberhasilan tersebut dapat memberi manfaat bagi orang lain.
Dedeng Mopangga tampaknya memilih untuk menjalankan keduanya—membangun usaha sekaligus ikut memberi ruang bagi pendidikan dan kehidupan keagamaan masyarakat.
Bisnis boleh tumbuh. Nama boleh semakin dikenal. Tetapi ketika keberhasilan masih menyisakan ruang untuk berbagi dan membangun, maka kesuksesan tidak berhenti sebagai pencapaian pribadi.***
(Rm)










