Puncak HSN 2026 Ditutup Dzikir dan Sholawat di Alun-alun Jember, Gus Fawait: Santri Punya Saham Besar Atas Kemerdekaan RI

 

JEMBER, ewarta.co – Pemerintah Kabupaten Jember resmi menutup rangkaian Hari Santri Nasional (HSN) 2026 melalui kegiatan Dzikir dan Sholawat Akbar di Alun-Alun Jember, Kamis (22/10/2026) malam. Ribuan jamaah dan santri tampak memadati pusat kota pada malam puncak yang berlangsung dari pukul 19.00 WIB hingga tengah malam tersebut.

​Acara ini sekaligus menjadi penutup dari total 13 hari rangkaian peringatan HSN yang telah digelar oleh Pemkab Jember sejak 10 Oktober lalu.

​Dalam sambutannya, Bupati Jember Gus Fawait menegaskan bahwa kepemimpinannya sebagai bupati berlatar belakang santri berkomitmen penuh untuk menyetarakan hak seluruh elemen masyarakat, khususnya kalangan pesantren.

​"Santri itu punya saham besar atas kemerdekaan Republik Indonesia. Oleh sebab itu, menjadi kewajiban bagi Pemkab Jember untuk memastikan santri mendapatkan porsi perhatian dan keadilan yang sama dengan elemen masyarakat lain," ujar Gus Fawait di hadapan ribuan jamaah.

​Sebagai wujud nyata dari komitmen tersebut, Gus Fawait memaparkan sejumlah kebijakan strategis yang berpihak pada masyarakat:

​Pertama, Pemkab Jember meningkatkan alokasi anggaran beasiswa daerah periode 2025–2029 dengan menghadirkan kategori khusus bagi para santri.

​Kedua, pemberian insentif rutin dan terhormat kepada guru ngaji Muslim maupun non-Muslim, marbot masjid, serta perlindungan jaminan sosial melalui BPJS Ketenagakerjaan. Mulai tahun 2026, Pemkab juga menyalurkan insentif bagi para ketua kelompok pengajian sebagai bentuk apresiasi atas peran mereka dalam membina keagamaan masyarakat.

​Ketiga, Pemkab mengalihkan anggaran operasional kendaraan dinas pejabat untuk dialokasikan ke sektor kesehatan. Warga ber-KTP Jember kini dapat berobat secara gratis di berbagai fasilitas kesehatan. Pemkab bahkan menyediakan armada antar-jemput pasien secara gratis (Mobil Cinta) khusus bagi pasien kelas 3 dari keluarga tidak mampu di rumah sakit daerah.

​Gus Fawait menegaskan bahwa pemaparan capaian ini bukanlah bentuk kesombongan, melainkan wujud rasa syukur sekaligus bukti nyata bahwa lulusan pesantren sangat mampu mengemban amanah memimpin pemerintahan dengan baik.

​"Santri disuruh mengaji bisa, ceramah mampu, dan memimpin daerah pun sanggup. Jangan pernah ragu atau minder menjadi bagian dari santri," pungkasnya.

​Sebelum malam puncak ini, Pemkab Jember telah menggelar berbagai rangkaian lomba keagamaan secara maraton selama 13 hari. Kegiatan tersebut meliputi Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) pada 10–11 Oktober di Kantor Pemkab dan Masjid Jami' Al-Baitul Amin, Festival Musik Patrol pada 12 Oktober di Alun-Alun, Gema Festival Hadrah Nasional pada 13–19 Oktober di Alun-Alun, Festival Da'i Cilik, Remaja & Dewasa pada 12 Oktober di Gedung Jember Nusantara, serta Festival Adzan pada 13 Oktober.

​Rangkaian berlanjut dengan Cerdas Cermat Kitab Safinah (14 Oktober), Santri Bersinar atau Bersih Narkoba (14 Oktober), Festival Lalaran Alfiyah (15 Oktober), Pesantren Cinematic Festival (16 Oktober), Musabaqah Qira'atil Kutub (MQK) pada 18–20 Oktober, Khotmil Qur'an serentak di kantor kecamatan se-Kabupaten Jember (21 Oktober), serta Bahtsul Masail di Pendopo Wahyawibawagraha (21 Oktober).

​Adapun puncak acara dimulai dengan Apel Santri yang dirangkai dengan pemeriksaan kesehatan gratis serta donor darah pada 22 Oktober pagi, sebelum ditutup dengan malam Dzikir & Sholawat HSN.

​Penulis: Hafit