Puncak El Nino 2026: Krisis Air Bersih Merembet ke Kota Jember, PMI dan BPBD Berbagi Tugas

Create: Tue, 11/08/2026 - 19:41
Author: Redaksi

 

JEMBER, ewarta.co – Dampak fenomena El Nino dilaporkan memuncak pada Agustus 2026. Krisis air bersih yang sebelumnya hanya melanda wilayah perdesaan di Kabupaten Jember, kini mulai merembet ke kawasan perkotaan. Menanggapi kondisi ini, PMI dan BPBD Kabupaten Jember bergerak cepat menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah titik terdampak, Selasa (11/8/2026).

​Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa Agustus 2026 menjadi puncak episode El Nino dengan penurunan curah hujan yang signifikan. Kuantitas air tanah yang terus menyusut memicu krisis air di berbagai wilayah Jember.

​Sebelumnya, krisis air melanda Dusun Bunder (Desa Sumberpinang, Pakusari), Desa Sumberjeruk (Kalisat), dan Desa Mulyorejo (Silo). Kini, wilayah perkotaan seperti Lingkungan Plinggian, Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, turut terdampak.

​Merespons surat permohonan warga, PMI Kabupaten Jember mendatangkan armada truk tangki berkapasitas 5.000 liter ke Lingkungan Plinggian. Selain menyuplai air, PMI juga memasang dua unit tandon berkapasitas masing-masing 1.200 liter di pemukiman warga, di mana salah satunya merupakan bantuan dari ICMI Orda Jember.

​"Hari ini kami menyerahkan dua tandon untuk warga yang kesulitan air bersih dengan total kapasitas 2.400 liter. Setiap dua hari sekali, armada PMI akan melakukan pengisian ulang," ujar Kepala Bidang Penanggulangan Bencana PMI Kabupaten Jember, Narto.

​Bantuan ini dimanfaatkan oleh 90 KK di 2 RT. Menurut tokoh masyarakat setempat, Suprikto, warga terpaksa mengambil air di sumber mata air bawah sungai ber-medan terjal selama dua bulan terakhir untuk kebutuhan minum.

​"Sumur warga sudah kering. Untuk mandi kami masih pakai air sungai, tetapi debitnya terus turun," tutur Suprikto.

​Pada saat yang bersamaan, BPBD Kabupaten Jember menyalurkan bantuan air bersih gelombang ke-5 ke Dusun Baban Timur, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo. Sebanyak 85 KK di wilayah tersebut tercatat mengalami krisis air sejak Juli 2026.

​Kepala BPBD Kabupaten Jember, Edy Budi Susilo, menjelaskan bahwa distribusi dilakukan berdasarkan permohonan pihak desa dan hasil asesmen Tim Reaksi Cepat (TRC) per 1 Agustus 2026.

​"Di RW 07 belum ada sistem pipanisasi. Sumur warga setinggi 15 meter sudah kering, sehingga warga harus berjalan sejauh 3 km ke sungai terdekat," jelas Edy.

​Tim BPBD mendistribusikan 5.000 liter air bersih yang dibagi ke 5 titik tandon di mushola, masjid, dan rumah warga. Pihaknya juga menyiagakan tandon cadangan serta menjadwalkan distribusi rutin setiap dua hari sekali hingga musim kemarau berakhir.

​"Kami mengimbau warga agar hemat menggunakan air dan memanfaatkan bantuan ini sebaik-baiknya," pungkas Edy. (Hafit)