Perang Pemikiran PEMIRA UNIB

 

Bengkulu, eWARTA.co -- Mahasiswa Universitas Bengkulu saat ini sedang menjalani proses pemira sebagai wujud demokrasi mahasiswa yang akan melaksanakan pemilihan eksekutif yaitu Presma Wapresma besok kamis 16 Februari 2023 secara terpusat di GSG dan ini pertama kalinya dalam sejarah Panjang pemira unib, bahwa pemira dilakukan secara terpusat yang artinya tidak partisipatif akan banyak merugikan mahasiswa seperti teman-teman dari kampus PGSD, Penjas, Kesehatan yang harus memakan waktu untuk pergi ke kampus utama karena biasanya selama ini mereka dimudahkan karena ada TPS yang tersebar di sana.

Beberapa juga ada mahasiswa yang melakukan magang riset atau yang sejenisnya sama pentingnya sehingga mengharuskan berada di luar provinsi Bengkulu, mereka juga punya hak suara tapi belum terlihat bagaimana pemenuhan hak ini bisa diwujudkan, tapi saya rasa KPU punya alasan yang membuat akhirnya pasrah menjadi terpusat bukan kali ini saja KPU menyimpang dari aturan, setiap tahun pemira selalu saja bermasalah, enak kalau yang berperang melawan KPU pemikirannya dengan intelektual tapi ini dengan ambisi dan emosional bahkan seringnya diiringi dengan intimidasi dan kekerasan yang membuat seolah tubuhnya saja seperti manusia dewasa tapi mentalnya masih kekanak-kanakan, gelarnya saja mahasiswa tapi apakah benar sudah mencerminkan mahasiswa yang di harapkan dosen-dosen kita dan para petinggi kampus hari ini, pada akhirnya perilaku serampangan berujung pada kerugian entah itu fisik, mental, bahkan materi karena memang ada mahasiswa penyelenggara pemira tahun lalu selama 6 bulan lebih konsultasi ke psikolog pasca pemira, ada yang pingsan, ada yang berdarah-darah sebenarnya apa urgensi mahasiswa melanjutkan budaya yang berlarut seperti ini, bisa jadi kita ini ketinggalan zaman karena di kampus-kampus besar di Indonesia mereka perang pemikiran dengan intelektual bukannya menggonggong apalagi tidak ada hal yang substansial dibahas dan nampaknya hanya terjadi disini.

KPU pun tidak bisa benar-benar melawan pemikiran yang meleset ini, makanya suatu saat saya ingin sekali melihat ketua KPU itu dari mahasiwa Fakultas Hukum yang sudah mumpuni.

Setelah melihat, mendengar dan merasakan karena dulu ketika saya di MPM saya orang yang membubarkan dan membentuk ulang KPU KBM UNIB, saya sendiri merasakan dampak ketidakpedulian mahasiswa untuk melawan ketidakbenaran, saya pernah di fitnah, saya pernah dikhianati, saya pernah merasakan di tinggal sendirian, saya pernah merasakan di intimidasi dan di intervensi, saya pernah dirangkul salah satu cawapresma hari ini dari PKM sampai ke UNIB Belakang, saya pernah merasakan di pukul di kepala bagian belakang dan saya mengingat itu semua dan saya sudah menandai orangnya untuk menyambung tali persaudaraan ketika bertemu di masa depan dalam keadaan yang sudah berbeda dan ternyata malah takdir mempertemukan kita secepat ini. Walaupun waktu itu saya terpaksa untuk menandatangani pembubaran KPU KBM UNIB tapi dengan tawaran mereka akan mendaftar KPU KBM UNIB, dan ternyata itu hanya alibi saja sebelum KPU dibubarkan anggota KPU KBM UNIB ada 7 orang tapi setelah dibentuk ulang malah berkurang menjadi 6 orang itu kan namanya munafik tidak sesuai perkataan dan perbuatan, tapi alhamdulillah saya sudah memaafkan tapi tidak tahu besok apa bisa benar-benar kita bersalaman kembali.

Mahasiswa harus benar-benar tetap objektif memastikan hari ini untuk mengenali kembali lebih dalam bagaimana karakter para calon pemimpin kita hari ini, apa grand designnya, visi-misi dan program unggulan dari paslon yang sudah disampaikan selama kampanye dan debat beberapa hari yang lalu.

Beberapa waktu lalu saya tidak sengaja mengobrol dengan mahasiswa yang tergabung dalam Kolaborasi Kebaikan Bengkulu pada agenda Galang Dana Gempa Turki. Bahwa mereka resah terhadap oknum-oknum yang mengacaukan pemira ini dan ingin sekali memperjuangkan kebenaran di hari pemilihan nanti, karena ada mahasiswa yang awalnya sepaham dengan mereka tetapi tiba-tiba tidak konsisten dengan kesepahaman diawal dan mereka mendengar ada isu money politic dalam pemira UNIB tahun ini, bahwa ketua-ketua ORMAWA sudah dicekoki dengan uang dan kabar itu sudah menyebar pesat, saya pikir dari apa yang saya pelajari tentang manusia selama ini bahwa yang membuat mereka tidak konsisten itu karena kurangnya ilmu dan 3 faktor besar seperti harta, tahta, wanita bisa jadi juga.

Karena memang berkaca pada kampus-kampus besar di Indonesia ya bukan rahasia umum lagi money politic disana dan nampaknya unib baru mau dimulai project money politicnya saat ini dan sudah kewajiban kita semua mahasiswa yang punya hati dan akal yang sehat untuk mencegah hal ini terjadi dengan tidak menerima sogokan untuk memilih dalam bentuk apapun itu.

Penting juga untuk mahasiswa Universitas Bengkulu memilih dengan kesadaran yang sehat dengan mempertimbangkan selain dari karakter orangnya seperti apa, juga dipertimbangkan siapa saja para timsesnya, pendukungnya dan siapa saja di balik layar kontestasi pemira ini jangan sampai memilih karena balihonya paling besar dan paling banyak kan itu namanya sesat berpikir. Jangan sampai pula kita mau di propaganda dan di politik adu domba, maka cerdaskan diri supaya bisa melihat dan membedakan tentang baik,buruk,benar,salah.

Sekaligus saya memberikan masukan dan saran untuk rektor saya tercinta Ibu Dr. Retno Agustina Ekaputri, S.E.,M.Sc dan Dosen Pembimbing Akademik saya sekaligus WR 3 Bidang Kemahasiswaan Bapak Dr. Candra Irawan, S.H.,M.Hum, Saya rasa Ibu dan Bapak sepaham dengan saya hari ini pandangannya akan fenomena betapa berbahayanya generasi mahasiswa yang perlahan tidak ada lagi akhlak, etika & moral, kemudian wawasan kebangsaan sangatlah menipis di Civitas Akademika UNIB ini sehingga banyak yang tidak peduli karena mereka tidak paham ilmunya bagaimana negara atau miniatur negara (kampus) ini berjalan terbukti KPU, PANWAS, P2PEMIRA selalu sepi peminatnya bahkan tidak jarang juga tiba-tiba mengundurkan diri, akhirnya pergantian atau oprec kembali dan ini perlu di evaluasi apa benang merah yang membuat ini terjadi setiap tahunnya, jadi harapan saya kedepan ada memang kurikulum dari universitas untuk ditanamkan kembali nilai akhlak, etika & moral, kemanusiaan serta pemahaman terhadap wawasan kebangsaan baik saat belajar di kelas maupun saat belajar di organisasi dan sudah kewajiban MPM KBM UNIB & DPM KBM UNIB untuk terlibat juga dalam melakukan pencerdasan terhadap tatanan kampus kita saat ini sesuai ADKBM UNIB.

Atas keresahan saya pribadi juga yang mempunyai pemahaman dan pengalaman yang cukup banyak di Pemira karena saya tidak pernah apatis terhadap pemira, saya tidak mau melecehkan diri yang sudah diberikan hak suara ini, sebagai Mahasiswa Hukum Tata Negara, seorang volunteer, hobi pula konseling karena pernah jadi Konselor Sebaya dan Ketua PIK-R saat SMA dan tidak pula mengenyampingkan agama, akhlak, etika & moral selama memimpin MPM tahun 2021 sampai sekarang memimpin Forum Aktivis Muslim Bengkulu Selatan tahun 2023 karena memang hal tersebut tidak bisa dikesampingkan apalagi cita-cita saya menjadi Hakim Mahkamah Konstitusi, saya pun berorganisasi hampir 9 tahun banyak sekali karakter dan sifat manusia yang saya temui tapi baru di pemira kali ini melihat karakter manusia yang tidak manusianya mencolok sekali.

Memimpin itu kan berarti menderita artinya pemimpinnya yang merasakan penderitaan bukan malah menjadikan hobi membuat orang lain menderita karena ingin memimpin tadi atau sudah ada yang memimpin baik itu mahasiwa ataupun sarjana hukum hari ini, sudah resiko saya kemarin menjabat dan menjadi mahasiswa Hukum pertama yang berani mengambil langkah berbeda dari mahasiswa hukum pada umumnya yang terlalu fokus pada BEM saja padahal saya melihat dari mata saya MPM & DPM ini jauh lebih seksi daripada BEM.

Bukanlah sebuah pilihan diam atas keburukan atau penyimpangan yang terjadi dan kemungkinan akan terjadi lagi, apalagi tahun ini sudah berbeda posisinya, mahasiswa Universitas Bengkulu lebih aware terhadap Pemira walaupun tidak meningkat terlalu tajam, kadang kala kita lupa bahwa memimpin itu bukan untuk kepentingan personal branding tapi memang untuk mensejahterahkan Keluarga Besar Mahasiwa Universitas Bengkulu dan kalau sudah mensejahterahkan otomatis personal brandingnya terkenang selalu malah.

Saya ingin kampus kita ini tidak hanya menghasilkan lulusan yang banyak tapi juga berkualitas yang memenuhi kriteria tadi, karena tahun ini sudah waktunya saya lulus, ketika saya jadi alumni saya tetap bisa menjaga, membanggakan dan mengharumkan nama kampus ini dimanapun berada dan suatu saat saya pun tetap membutuhkan kampus ini terutama dosen-dosen hebat saya di Fakultas Hukum, maka jangan terlalu berambisi untuk berkuasa apalagi ini hanya sekedar dunia, hubungan baik dengan dosen dan birokrasi itu sangat penting jangan sampai abai terhadap itu.

Terakhir saya mengajak seluruh mahasiwa Universitas Bengkulu untuk memberikan effort lebih pada Pemilihan Umum Raya Universitas Bengkulu Besok Kamis, 16 Februari 2023 di Gedung Serba Guna Universitas Bengkulu, jangan sampai idealisme kita hari ini bisa digadaikan dengan uang yang tak seberapa, perjanjian jabatan lah atau kepentingan-kepentingan lain yang akan menggangu konsistensi dan sikap kita untuk memberikan manfaat sepenuh hati dalam Satu kesatuan Keluarga Besar Mahasiwa Universitas Bengkulu, Satu suara untuk Satu periode, mari kita berpartisipasi, mengawal dan menyukseskan proses pergantian kepemimpinan tahun ini.

Kepada kedua pasang calon Presma & Wapresma, para timses dan pendukungnya saya menghimbau dan meminta tolong untuk tidak memancing dan terpancing keributan besar atau malah berpikiran untuk membuat keributan besar.

Kalah ya kalah aja, menang ya menang aja biasa aja guys hidup ini, tidak selamanya kita kalah, tidak selamanya pula kita menang memang begitulah konsep roda kehidupan berputar dalam hal ini politik kampus.

Kalaupun ada yang dirugikan ya bukan lagi prosedural yang dibahas tapi sudah masuk ke poin yang substansial saja karena besok berkaitan dengan hasil, maka jangan menjadi mahasiswa yang golput kalau benar resah.*

Hendy Setiawan, Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa KBM UNIB 2021