Pemprov Bengkulu Siapkan Langkah Antisipasi Transpotasi Laut dan Udara Hadapi Cuaca Ekstrim

 

BENGKULU, eWarta.co -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi cuaca ekstrem di Provinsi Bengkulu. Dalam periode 15 hingga 22 Desember 2025, sebagian besar wilayah Bengkulu diprakirakan mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai angin kencang.

Obb

BMKG menyebutkan, kondisi tersebut dipicu oleh dinamika atmosfer yang cukup signifikan, salah satunya akibat terbentuknya Siklon Tropis Bakung. 

Siklon ini sebelumnya teridentifikasi sebagai Bibit Siklon 91S yang berkembang di Samudra Hindia bagian barat daya Lampung. Selain itu, terdapat indikasi adanya sistem badai lain yang berpotensi berinteraksi dan memperkuat dampak cuaca ekstrem di wilayah Bengkulu.

Menanggapi peringatan tersebut, Kepala Dinas Perhubungan Kota Bengkulu, Hendri Kurniawan, SE, MM, mengatakan bahwa pemerintah daerah telah menindaklanjuti edaran dari Kementerian Dalam Negeri (Mendagri). Tindak lanjut tersebut dilakukan melalui rapat koordinasi yang dipimpin oleh Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu.

“Benar, kami sudah menerima edaran dari Mendagri dan langsung ditindaklanjuti dengan rapat bersama yang dipimpin Pak Sekda. Rapat tersebut membahas potensi dampak Siklon Bakung yang ditambah dengan adanya sistem badai lain yang berbeda jenis dan diperkirakan akan saling bertemu di wilayah Bengkulu,” ujar hendri.

Sebagai langkah awal, ASDP bersama Basarnas telah meminta Gubernur Bengkulu untuk mengirimkan surat kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat guna mengusulkan pelaksanaan rekayasa cuaca. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi intensitas hujan ekstrem yang berpotensi menimbulkan bencana.

Selain itu, Dinas Perhubungan bersama BMKG akan secara rutin merilis informasi cuaca dan kondisi laut secara real time, khususnya di perairan Bengkulu yang menjadi jalur pelayaran menuju Pulau Enggano. Informasi tersebut akan menjadi acuan utama dalam pengambilan keputusan terkait keselamatan transportasi.

“KSOP nantinya akan melakukan pengawasan dan supervisi secara ketat. Jika kondisi cuaca dinilai tidak aman, maka kapal tidak akan diberikan izin berlayar,” jelas Hendri.

Pengawasan ketat juga diberlakukan pada sektor transportasi udara. Pemerintah daerah menggandeng BMKG dan otoritas terkait untuk memastikan keselamatan penerbangan selama periode cuaca ekstrem.

“Jadi, kita menggandeng dua sektor sekaligus, yaitu lalu lintas laut dan udara. Keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama,” tegas Hendri.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Fatmawati Soekarno Bengkulu, Tri Widiarto, menjelaskan bahwa siklon tersebut memiliki kecepatan angin maksimum mencapai 50 knot atau sekitar 95 kilometer per jam dengan tekanan udara minimum 988 hPa.

“Siklon Tropis Bakung menyebabkan terjadinya konfluensi dan belokan angin di wilayah Bengkulu. Kondisi ini diperkuat oleh suhu muka laut yang hangat serta kelembapan udara yang tinggi di seluruh lapisan atmosfer,” ungkap Tri Widiarto.

Tri menambahkan, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) negatif yang masih berlangsung turut meningkatkan suplai uap air ke wilayah Bengkulu, sehingga berpotensi memicu pertumbuhan awan hujan secara signifikan, khususnya di wilayah pesisir barat. (red)