Hpn dpr muko" test Idul Fitri DPR Seluma RSJKO Bappeda seluma

googlesyndication

Pemerintah Tetapkan Harga TBS Sawit di Provinsi Bengkulu Rp1,845 Ribu Perkilogram

Create: Wed, 06/22/2022 - 16:15
Author: Redaksi

 

Bengkulu, eWARTA.co -- Pemerintah Provinsi Bengkulu melalui Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) menetapkan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di wilayah ini senilai Rp 1,845 ribu perkilogram (/Kg)hingga dua pekan kedepan. 

Kemudian harga TBS sawit di tingkat pabrik kelapa sawit (PKS) mencapai Rp 1.942,94/kg, dengan harga terendah Rp 1.666,30 dan tertinggi Rp 2.219,58/kg, serta toleransi sebesar 5 % menjadi Rp 1.845,79/kg.

Kemudian, indeks "K" ditetapkan sebesar 81,76%, harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Rp 11.244,87/kg, dan inti sawit atau palm kernel Rp 6.342,00/kg.

Atas ketetapan ini, harga TBS kelapa sawit kembali turun daripada ketetapan sebulan sebelumnya Rp 2.219,58/Kg.

Penetapan harga disepakati Direktur Perbenihan Dirjen Perkebunan Kementan sekaligus koordinator gugus tugas monitoring dan pembelian harga TBS wilayah VI disaksikan Kepala Disperindag, GAPKI, KADIN, anggota APKASINDO dan para perwakilan PKS yang ada di Provinsi Bengkulu. 

Kepala DTPHP Provinsi Bengkulu, Ricky Gunarwan mengatakan rapat ini membahas harga TBS yang terus merosot dan tidak adanya kepastian harga pembelian oleh PKS seperti ketetapan bersama dari sebelumnya. 

Adanya keterlambatan penerimaan TBS di beberapa PKS, sampai Ricky ditengarai oleh penuhnya kapasitas tangki produksi sementara ekspor masih dibatasi.

Sebagai imbasnya, ini sangat dirasakan oleh para petani kelapa sawit yang ada di Provinsi Bengkulu, di mana produksi buah tetap berjalan, harga sarana produksi masih tinggi sehingga tidak tertutupi dengan hasil panen. 

"Selain harga masih di bawah kesepakatan, kondisi saat ini banyak PKS yang berhenti terima TBS dari masyarakat. Kalau ini berlanjut, sementara buah harus tetap dipanen, petani yang notabene bergantung dari sawit, harus kemana lagi menjual TBS-nya," ucap Ricky, Rabu (22/6/2022).

Menurutnya, pemerintah selalu mencari solusi, salah satunya dengan duduk bersama menetapkan harga TBS ini sehingga ada kepastian harga pembelian TBS dari masyarakat. 

"Penetapan harga TBS ini mengacu kepada Permentan 01 tahun 2018 dan juga kondisi serta kesepakatan bersama mengikuti perkembangan harga TBS saat ini," sampai Ricky.

Selanjutnya ditambahkan Analis Perkarantinaan Tumbuhan (APT) Yunus Isnawan, menyampaikan dukungan agar tercipta harga TBS yang baik bagi masyarakat dan tidak merugikan perusahaan. 

"Semoga ekspor berangsur normal, karantina pertanian siap mendukung ekspor sawit dan turunannya melalui pintu-pintu pengeluaran. Saat ini baru cangkang sawit yang diekspor langsung melalui pelabuhan Pulau Baai," ucap Yunus.  (Bisri)