Pelatihan SDMP 2026 Perkuat Kompetensi Pekebun Sawit di Bengkulu

Create: Mon, 31/08/2026 - 10:37
Author: Admin 3

 

Bengkulu, eWarta.co -- Pengalaman panjang mengelola kebun menjadi modal penting bagi pekebun kelapa sawit. Namun, menghadapi tantangan industri sawit yang semakin kompleks, pengalaman perlu diperkuat dengan kemampuan teknis, data, teori, dan praktik lapangan.

Perpaduan pengalaman dan pengetahuan teknis diharapkan membuat pekebun mampu mengambil keputusan berdasarkan kondisi tanaman dan standar pengelolaan yang tepat. Dengan demikian, pengelolaan kebun tidak hanya mengandalkan kebiasaan, tetapi juga didukung pengetahuan yang terukur.

Hal tersebut menjadi salah satu fokus Pelatihan Petani Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) 2026 di Bengkulu. Kegiatan ini dilaksanakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun).

Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, mengatakan pelatihan bagi pekebun bukan untuk menggantikan pengalaman yang telah dimiliki selama ini. Pengetahuan teknis diberikan untuk memperkuat pengalaman tersebut agar dapat diterapkan secara lebih tepat di lapangan.

“Bukan berarti kami lebih baik. Bapak Ibu semua ini pengalamannya juga lebih banyak, nanti ditambah dengan data, dengan teori, insyaallah akan menjadi semakin lebih baik dan semakin berkembang,” ujar Dr. Idum saat membuka pelatihan di Bengkulu, Kamis (27/8/2026).

Menurutnya, perpaduan pengalaman dan ilmu teknis dapat membantu pekebun menghadapi berbagai persoalan dalam pengelolaan kebun. Mulai dari pemeliharaan tanaman, pemupukan, pengendalian kondisi kebun, penentuan waktu panen, hingga penanganan hasil panen membutuhkan pertimbangan yang tepat.

Peningkatan kompetensi semakin penting karena sektor kelapa sawit menghadapi tantangan dari berbagai sisi. Di tingkat kebun, pekebun berhadapan dengan persoalan ketersediaan pupuk, perubahan suhu dan kelembapan, perubahan iklim, ancaman El Niño, hingga risiko kebakaran.

Di sisi lain, minyak sawit juga menghadapi persaingan dengan berbagai komoditas minyak nabati seperti minyak bunga matahari, kedelai, dan rapeseed. Kondisi tersebut membuat peningkatan produktivitas dan kualitas sawit rakyat menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan.

“Banyak sekali PR yang masih menjadi bagian yang harus terus kita upayakan bersama-sama,” kata Dr. Idum.

Karena itu, pelatihan diarahkan tidak hanya untuk menambah wawasan, tetapi juga membangun kemampuan pekebun dalam menerapkan ilmu secara langsung. Peserta mendapatkan pembelajaran di kelas, praktik lapangan, hingga kunjungan lapangan ke perkebunan perusahaan.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, peserta dapat melihat secara langsung penerapan teknik pengelolaan perkebunan dan membandingkannya dengan praktik yang selama ini dilakukan di kebun masing-masing. Pembelajaran itu diharapkan membantu peserta memahami standar pengelolaan yang tepat dan dapat diterapkan setelah kembali ke daerah.

“Harapannya adalah kita dalam mengelola sawit itu sendiri, apa yang kita kerjakan itu benar,” ujar Dr. Idum.

Pelatihan SDMP 2026 di Bengkulu diikuti 156 pekebun dari Kabupaten Mukomuko dan Bengkulu Utara. Sebanyak 47 peserta asal Mukomuko mengikuti pelatihan teknis budidaya, 29 peserta mengikuti pelatihan teknis panen dan pascapanen, serta 80 peserta asal Bengkulu Utara mengikuti pelatihan teknis budidaya.

Kegiatan berlangsung mulai 27 Agustus hingga 1 September 2026. Materi pelatihan disusun untuk memperkuat kemampuan teknis peserta dalam mengelola perkebunan secara lebih terukur, efisien, dan sesuai prinsip budidaya yang baik.

Peningkatan kompetensi pekebun juga berkaitan erat dengan kualitas tandan buah segar (TBS) yang dihasilkan perkebunan rakyat di Bengkulu. Kualitas TBS menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian karena berkaitan langsung dengan harga yang diterima pekebun.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Provinsi Bengkulu, Hj. Sri Herlin Despita, S.Pt., M.P., mengatakan kualitas TBS masih menjadi tantangan bagi pekebun di daerah. Kondisi tersebut perlu dibenahi agar hasil produksi perkebunan rakyat mampu bersaing dengan daerah lain.

“Masih banyak permasalahan di lapangan. Harga TBS kita lebih rendah dari provinsi tetangga karena diklaim perusahaan pembeli bahwa kualitas kita belum sebagus di provinsi tetangga,” ujar Sri Herlin.

Ia menjelaskan, kualitas TBS tidak hanya ditentukan ketika buah dipanen. Kondisi tanaman sejak tahap budidaya dan pemeliharaan, tingkat kematangan buah, teknik panen, serta penanganan setelah panen turut menentukan kualitas hasil.

Dengan pengelolaan yang tepat sejak awal, pekebun diharapkan mampu menghasilkan TBS berkualitas sehingga memiliki nilai jual yang lebih baik. Peningkatan kualitas tersebut juga menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat posisi pekebun sawit rakyat.

“Dengan tujuan menghasilkan TBS yang memiliki kualitas baik akan memperoleh harga yang baik pula,” kata Sri Herlin.

Menurutnya, pemahaman menyeluruh mengenai pengelolaan kebun akan membantu pekebun menentukan langkah secara lebih tepat. Pengetahuan tersebut mencakup waktu pemupukan, pemeliharaan tanaman, penentuan buah siap panen, teknik pemanenan, hingga menjaga kualitas TBS setelah keluar dari kebun.

Karena itu, ia berharap pelatihan yang diikuti 156 pekebun tidak berhenti di ruang kelas. Ilmu yang diperoleh selama pelatihan diharapkan benar-benar diterapkan setelah peserta kembali ke daerah masing-masing.

“Kami harap 156 orang ini dapat kembali dari pelatihan dan menerapkan ilmu yang diperoleh di daerah masing-masing,” ujar Sri Herlin.

Selain meningkatkan produktivitas dan kualitas TBS, penguatan kompetensi pekebun juga penting untuk mendukung penerapan prinsip perkebunan berkelanjutan, termasuk Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Penerapan praktik budidaya yang baik diharapkan dapat meningkatkan daya saing perkebunan rakyat sekaligus mendukung keberlanjutan sektor sawit.

Melalui kolaborasi AKPY, BPDP, dan Ditjenbun, Pelatihan SDMP 2026 diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas pekebun sawit rakyat di Bengkulu. Pengalaman pekebun menjadi fondasi, sedangkan ilmu teknis, data, praktik, dan standar pengelolaan menjadi penguat untuk menghasilkan kebun yang lebih produktif dan berkualitas.