Pekebun Sawit Seluma Diminta Gunakan Data untuk Tingkatkan Produksi

Create: Wed, 26/08/2026 - 14:15
Author: Admin 3
Tags

 

Seluma, eWarta.co – Pekebun kelapa sawit di Kabupaten Seluma diminta tidak hanya mengandalkan pengalaman dalam mengelola kebun. Data, pengetahuan teknis, dan standar budidaya perlu digunakan sebagai dasar untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), Dr. Idum Satia Santi, saat menutup Pelatihan Teknis Budidaya serta Panen dan Pascapanen Kelapa Sawit bagi 160 peserta asal Seluma, Senin (24/8/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026.

Pelatihan diikuti 100 peserta pada tiga kelas teknis budidaya serta 60 peserta dalam dua kelas panen dan pascapanen. Materi diberikan untuk memperkuat kemampuan pekebun dalam mengelola tanaman, menentukan tindakan perawatan, hingga menjaga kualitas tandan buah segar (TBS).

“Pengalaman saja tidak cukup untuk era saat ini. Pengalaman itu harus juga melihat data, melihat rujukan ilmu,” kata Idum.

Menurut Idum, pengalaman tetap menjadi modal utama pekebun, tetapi harus dilengkapi dengan pengetahuan yang dapat mengukur hasil pengelolaan kebun. Dengan cara itu, pekebun dapat mengetahui bagian yang sudah baik dan menentukan hal yang masih perlu diperbaiki.

Salah satu kegiatan pelatihan dilakukan melalui field trip atau kunjungan lapangan. Peserta melihat langsung kondisi kebun dan membandingkan praktik pengelolaan serta kualitas TBS dengan kebun yang menjadi rujukan.

Idum mengatakan pembanding penting untuk menghindari penilaian sepihak terhadap kondisi kebun sendiri. Pekebun bisa saja merasa hasil kebunnya sudah maksimal, padahal produktivitas maupun rendemen masih dapat ditingkatkan.

“Kadang kita melihat diri kita yang paling bagus, buah kita itu paling bagus. Tetapi rendemennya kok seperti ini terus,” ujarnya.

Ia menekankan peningkatan rendemen harus dimulai dari kebun, bukan hanya mengandalkan proses setelah TBS dipanen. Budidaya, pemilihan waktu panen, hingga penanganan TBS harus dilakukan sesuai standar agar kualitas hasil tetap terjaga.

Pola pengambilan keputusan di kebun juga perlu diperbaiki dengan melihat kondisi tanaman dan target produksi. Kebutuhan pupuk, misalnya, harus dihitung berdasarkan kebutuhan tanaman dan sasaran produksi, bukan sekadar berdasarkan kebiasaan.

“Bapak pengen produksinya bagus tapi pelit nggak kasih pupuk. Tanaman itu bisa berbicara sebetulnya kepada kita,” kata Idum.

Ia meminta peserta menerapkan materi yang diperoleh setelah kembali ke kebun. Menurutnya, keberhasilan pelatihan baru terlihat ketika pengetahuan tersebut menghasilkan perubahan dalam praktik pengelolaan kebun.

“Ilmu akan terasa lebih keren kalau dipraktikkan sepenuh hati,” ujarnya.

Peningkatan produktivitas sawit tidak selalu harus dilakukan dengan membuka lahan baru atau menambah penggunaan input. Pekebun dapat memulainya dengan mengelola kebun secara terukur, membaca data, memahami kondisi tanaman, dan menerapkan standar teknis dalam setiap tahapan budidaya.