JEMBER, ewarta.co – Kabupaten Jember mencatatkan prestasi gemilang di tingkat Jawa Timur. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2026, Jember dinobatkan sebagai daerah dengan penurunan jumlah penduduk miskin terbesar di antara 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur.
BPS mencatat, jumlah penduduk miskin Jember turun drastis sebanyak 15,99 ribu jiwa dalam kurun waktu satu tahun. Jika pada Maret 2025 total warga prasejahtera masih menyentuh 216,76 ribu jiwa, pada Maret 2026 angka tersebut turun menjadi 200,77 ribu jiwa.
Penurunan signifikan ini turut menggeser posisi Jember secara regional. Jika sebelumnya Jember berada di peringkat kedua sebagai kabupaten dengan jumlah penduduk miskin terbanyak di Jawa Timur di bawah Kabupaten Malang, kini posisinya turun ke peringkat ketiga. Peringkat pertama kini diduduki Kabupaten Malang dengan 233,80 ribu jiwa, disusul Kabupaten Sampang dengan 202,59 ribu jiwa.
Tidak hanya dari sisi jumlah, pencapaian persentase kemiskinan Jember juga mencetak rekor baru. Tingkat kemiskinan Jember pada Maret 2026 menyentuh angka 8,00 persen, yang merupakan level terendah dalam satu dekade terakhir. Padahal pada 2017, angka kemiskinan Jember sempat berada di kisaran 11,00 persen.
Capaian 8,00 persen ini bahkan melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2026 yang dipatok pada angka 8,36 persen. Artinya, realisasi Jember lebih baik 0,36 poin dari target yang telah ditetapkan.
Posisi Jember saat ini juga berada di bawah rata-rata Provinsi Jawa Timur yang tercatat sebesar 9,06 persen, dengan selisih 1,06 poin lebih baik. Bahkan, capaian tersebut sedikit lebih unggul jika dibandingkan dengan tingkat kemiskinan nasional yang berada di level 8,07 persen.
Yang menarik, tren penurunan kemiskinan di Jember tidak hanya terjadi secara kuantitas, tetapi juga menunjukkan perbaikan dari sisi kualitas.
Hal ini tercermin dari Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) Jember yang berada di angka 0,71. Angka ini jauh lebih rendah 41 persen dibandingkan rata-rata Jawa Timur (1,21) dan 44 persen di bawah angka nasional (1,27).
Begitu pula dengan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) yang tercatat hanya 0,10. Angka ini terpangkas hingga 58 persen dibanding rata-rata Jawa Timur (0,24) dan 66 persen di bawah angka nasional (0,29).
Secara sederhana, data tersebut mengindikasikan bahwa rata-rata masyarakat miskin di Jember posisinya sudah relatif dekat dengan garis kemiskinan, serta tingkat ketimpangan antarmasyarakat miskin menjadi lebih sempit. Kondisi ini dinilai sangat potensial untuk mempercepat pengentasan kemiskinan melalui intervensi yang tepat sasaran.
Sementara itu, di kawasan eks Karesidenan Besuki dan Lumajang (yang meliputi Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang), Jember keluar sebagai wilayah dengan progres tercepat. Total pengurangan penduduk miskin di lima wilayah tersebut mencapai sekitar 32,00 ribu jiwa, dan Jember menyumbang separuh dari total pengurangan tersebut.
Secara persentase, penurunan kemiskinan di Jember mencapai 0,67 poin—yakni dari 8,67 persen menjadi 8,00 persen. Capaian ini melampaui Banyuwangi yang turun 0,53 poin, Bondowoso 0,36 poin, Situbondo 0,34 poin, Lumajang 0,27 poin, serta berada di atas rata-rata Jawa Timur yang turun 0,44 poin dari 9,50 persen ke 9,06 persen.
Kini, tingkat kemiskinan Jember berada di bawah Bondowoso (11,84 persen) dan Situbondo (10,83 persen), mendekati Lumajang (8,33 persen), serta berada di atas Banyuwangi (5,60 persen).
Penulis: Hafit










