BENGKULU,eWARTA.co -- Lalu lintas merayap di jalan wisata Pantai Panjang Kota Bengkulu saat berakhir pekan menjadi pemandangan sekaligus nuansa tersendiri bagi pengunjung dari luar kota.
Beranjak pagi pukul 06.00 WIB dan pukul 15.00 hingga malam, jalanan padat merayap bakal terasa dari mulai pintu masuk kawasan Sungai Hitam hingga Pasir Putih. Pengunjung baik wisatawan, pejalan kaki, pelaku UMKM maupun yang sengaja berjoging ria terlihat sudah tidak asing jika hari libur tiba.
Pantai Panjang seperti menjadi pusat ekonomi kreatif bagi masyarakat baik dari sisi wisata maupun produk kuliner dan kearifan lokal yang dapat ditemui. Semua menjadikan ladang usaha bagi masyarakat pesisir kota ini.
Kita dapat menemui sisi kental wisata sejarah yang dijual Bengkulu untuk wisatawan domestik dan mancanegara. Berdiri kokoh benteng peninggalan Inggris Fort Malborough di tepi Pantai Panjang menjadi pelengkap berwisata di Bumi Raflesia.
Juga pantai dengan ombak dan batu karangnya yang jika ditemui pada menjelang senja akan terlihat lebih memesona. Warna merah di langit pada waktu matahari terbenam dan terbit disebabkan oleh kombinasi hamburan Rayleigh warna biru dan tingkat kepadatan atmosfer bumi. Sehingga ketika melihat senja dari atas Benteng Malborough akan membinasakan kebosanan.
Di seberang benteng ada juga Pantai Tahu. Pantai favorit muda-mudi menghabiskan waktu sore hari untuk melihat ombak yang diisi peselancar maupun pemancing. Kerap kali berlalu-lalang juga perahu nelayan tradisional menambah kesan liburan kamu berasa natural.
Tak jauh dari situ, kita menemui pantai kalangan anak akustik menjala senja yakni Pantai Malabero. Setidaknya, ada 100 orang lebih singgah setiap harinya di Pantai Malebero ini.
Hal ini tentu bisa jadi konsep yang wajib dimatangkan oleh pemerintah khususnya dinas pariwisata dalam melihat potensi wisata di Kota Bengkulu.
Meski sebelumnya Tahun 2020 sempat digadang jadi starting tour Bengkulu, namun pematangan konsep harus dan meski dilihat berdasar potensinya bukan permintaan pasar.
Melihat Pantai Malabero, beberapa bulan ini mengalami pasang surut air laut yang menyebabkan surutnya permukaan air dan menjadikan pantainya bertambah maju sepanjang 200 meter ke arah laut. Terlihat, sore hari pantai dengan terumbu karang yang landai mulai muncul ke permukaan dan mengundang masyarakat untuk menikmati destinasi wisata musiman.
Melihat potensi tersebut, ada layaknya jika kita sebagai konseptor wisata perlu menimbang kawasanan pantai sepanjang 7 kilo meter di pusat kota ini untuk menjadikan wisata tematik.
Pantai dengan paket lengkap ini tak menutup kemungkinan menjadi labuhan berlibur seperti Malioboro, Jogja yang tak pernah sepi pengunjung. Bisa jadi, Tak hanya Malioboro dengan konsep wisata yang memadukan ekosistem seni dan budaya, mengalunkan tarian dan bunyi angklung Jogja, Pantai Malabero juga bisa jadi pusat wisata dengan perpaduan kisah asmara Sukarno dan Fatma, estimasi kasih dan perjuangan membangun bangsa.
Pantai Panjang adalah referensi berlibur bersama keluarga dan pasangan sehingga tak menutup kemungkinan, area jalanan pantai di lepas Samudera Hindia ini akan selalu ramai saat waktu berlibur tiba.
Ada Pantai Zakat sebagai pusat pemandian dengan pasir putihnya yang ikonik, kemudian Pantai Malabero dengan terumbu karang membuncah menyambut rona senja sore hari, Pantai Tapak Paderi dengan DAM dan konservasi Tukik yang mendasau, Pantai Panjang Bengkulu dengan cemara yang mengalun-alun sepanjang sore, Pantai Berkas dengan taman yang menjulang langsung ke dasar samudera, juga Pantai Pasir Putih dengan keeksotisan pantai dan tamannya.
Jadi wajar jika ramai pengunjung di setiap sudut pantainya. Apalagi jika jalan tolnya sudah jadi, masyarakat dari Lubuklinggau-Sumatera Selatan bisa langsung datang menikmati suasana pantai ini dan diprediksi menambah jumlah kunjungan wisata dan nilai pendapatan daerah nantinya. Juga jika pandemi sudah berakhir, tak menutup kemungkinan event internasional dapat ditemui setiap beberapa bulannya yang tentu menjadi pengalaman terbaik bagi masyarakat luar. (Bisri)









