SELUMA, eWarta.co – Pasca amblasnya oprit Jembatan Matan yang menghubungkan Desa Pasar Seluma dan Desa Rawa Indah, Pemerintah Provinsi Bengkulu langsung meninjau lokasi untuk mengevaluasi kerusakan infrastruktur yang baru berusia dua bulan tersebut.
Amblasnya oprit jembatan pada Minggu (5/4) malam diduga kuat akibat hantaman debit air sungai yang bertemu dengan gelombang pasang air laut. Akibat kerusakan ini, akses jembatan ditutup total bagi kendaraan hingga proses perbaikan selesai dilakukan oleh pihak rekanan.
Kepala Dinas PUPR Provinsi Bengkulu, Tejo Suroso, mengklaim bahwa secara konstruksi bangunan sudah sesuai dengan Standar Teknis (SNI/BMS). Namun, ia mengakui adanya faktor alam yang tidak terprediksi secara akurat dalam perencanaan awal, yakni kekuatan benturan arus muara.
"Secara spesifikasi, baik ketebalan maupun kedalaman, sudah sesuai. Namun, kami akui bahwa perhitungan kekuatan arus saat air laut pasang bertemu banjir sungai ternyata jauh lebih besar dari hitungan awal. Hal ini menyebabkan turap penahan beban bocor hingga oprit terkikis air," ujar Tejo Suroso, Selasa (7/4/2026).
Karena jembatan masih dalam masa pemeliharaan, Dinas PUPR menginstruksikan pihak rekanan (kontraktor) untuk segera melakukan perbaikan menyeluruh dengan standar pengamanan ekstra.
Tejo meminta rekanan memasang pengamanan extra slab dan bore pile sepanjang 40 meter. Selain itu, bagian oprit yang amblas wajib dibongkar untuk dipasang geotekstil. Penggunaan geotekstil ini krusial untuk stabilisasi tanah, mencegah penurunan (settlement), dan memastikan struktur tidak mudah longsor di masa depan.
"Kami minta rekanan menambah pengamanan slab dan bore pile sekitar 40 meter. Oprit juga harus dibongkar untuk penambahan geotek agar kejadian serupa tidak terulang," tegasnya.
Sebagai langkah jangka panjang untuk melindungi aset senilai Rp16 miliar tersebut, Dinas PUPR Provinsi Bengkulu akan berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) VII.
Rencananya, akan diusulkan pembangunan pemecah gelombang (breakwater) sepanjang 200 meter di sekitar mulut muara. Fasilitas ini berfungsi untuk memecah energi ombak sebelum menghantam struktur jembatan dan melindungi garis pantai dari abrasi.
"Kami akan mengusulkan ke Balai Sungai untuk pemasangan pemecah gelombang sepanjang 200 meter. Ini penting untuk pengamanan pantai sekaligus melindungi struktur jembatan Matan secara permanen," pungkas Tejo.(Rns)









