JEMBER, ewarta.co – Musik Glondang atau Glundengan, warisan seni musik khas Kabupaten Jember, kini terancam punah. Seni irama klasik bergaya magis ini keberadaannya semakin terdesak dan hanya tersisa di beberapa titik, seperti Desa Arjasa serta Dusun Jambuan, Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari.
Melihat kondisi tersebut, Anggota DPR RI Dapil Jember-Lumajang, H. Muhammad Nur Purnamasidi (Bang Pur), mendorong Lesbumi PCNU Jember untuk bergerak cepat memberikan literasi budaya kepada generasi muda agar musik Glondang tidak hilang ditelan zaman.
"Lesbumi Jember harus memberikan perhatian strategis, bukan sekadar rutinitas. Ini warisan kita. Jika tidak diselamatkan sekarang, generasi berikutnya tidak akan mengenalnya lagi," tegas Bang Pur saat berkunjung ke Jember, Selasa (4/8/2026).
Musik Glondang memiliki identitas tersendiri; bukan karawitan, bukan patrol, dan bukan musik Banyuwangian. Ciri khas utamanya terletak pada instrumen penunjangnya yang seluruhnya terbuat dari kayu nangka dan bambu, seperti kendang, kentongan, demung, tek-tek, tong-tong, gong-gongan, saron, kenongan, hingga kecrek.
Pelestari musik Glondang dari Sanggar Umah Wetan, Abdur Rasyid (Cak Syid), menceritakan bahwa nama "Glondang" diambil dari suara benda besar yang jatuh.
"Pada zaman kolonial, rakyat jelata di Jember ingin memainkan gamelan tetapi terkendala kasta dan ketidakmampuan ekonomi. Akhirnya, mereka membuat sendiri alat musik dari kayu, dimulai dari demung. Dari situ, instrumen lainnya menyusul," terang Cak Syid.
Awalnya, demung digunakan warga Desa Biting untuk ritual memanggil burung merpati (getakan). Kini, musik Glondang diiringi lagu-lagu berbahasa Osing ciptaan Cak Syid—seperti Jeh Lempong, Sikep Perjuangan, dan Mapak Dewi Sri—sebagai upaya melestarikan bahasa Osing yang mulai jarang dituturkan.
Mantan Ketua Lesbumi PCNU Jember sekaligus akademisi FKIP Universitas Jember, Siswanto, M.A., menyebut Musik Glondang sebagai cerminan jati diri masyarakat Jember.
"Ini adalah musik hibrida Jawa-Madura-Osing. Ritmenya keras dan tegas, mencerminkan karakter masyarakat Pandalungan yang tangguh dan ulet. Syair lagunya mengandung nasihat, kritik sosial, hingga nilai spiritual," jelas Siswanto.
Menurut Siswanto, nilai utama Musik Glondang terletak pada semangat gotong royong, pendidikan moral, dan estetika kesederhanaan. Keindahannya lahir bukan dari kemewahan alat, melainkan dari kekompakan para penabuh serta keunikan karakter suara kayu dan bambu yang "kasar namun merdu".
Lesbumi PCNU Jember sendiri telah mulai memperkenalkan Glondang dalam berbagai agenda acara. Ke depan, mereka berencana menggandeng pihak sekolah, perguruan tinggi, dan komunitas untuk menggalakkan literasi budaya kepada anak muda.
Menanggapi hal tersebut, Bang Pur yang duduk di Komisi X DPR RI bidang Pendidikan dan Kebudayaan menegaskan kesiapannya untuk memfasilitasi langkah pelestarian bersama instansi terkait.
"Saat ini ada ancaman pengikisan budaya secara sistematis. Kita harus melawannya dengan memperkenalkan ulang musik tradisional ini lewat cara-cara yang adaptif dan relevan bagi anak muda," ungkapnya.
Jika langkah nyata tidak segera diambil, kekhawatiran terbesar adalah Musik Glondang yang kaya akan nilai-nilai luhur ini akan benar-benar punah dan hanya menjadi catatan sejarah.
Penulis: Hafit










