Ning Ghyta Kenalkan Kurikulum "CINTA", Ajak Warga Jember Cinta Anak Tanpa Syarat

Create: Sun, 09/08/2026 - 17:11
Author: Redaksi

 

JEMBER ewarta.co – Ketua Tim Penggerak Program Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Jember, Ghyta Eka Puspita alias Ning Ghyta mengajak orang tua berhenti memaksakan kehendak pada anak. Menurutnya, cinta dan pendampingan harus diberikan tanpa menjadikan harapan orang tua sebagai ukuran masa depan anak.

Pesan itu disampaikan Ning Ghyta saat berbincang dengan ibu-ibu PKK dan Forum Anak Jember dalam Festival Anak Jember di Pendopo Wahyawibawagraha, Sabtu (8/8/2026) malam.

Dia menegaskan orang tua harus mempu membedakan antara kebutuhan dengan keinginan anak serta harapan orang tua.

Ning Ghyta membuka diskusi dengan pertanyaan yang membuat para ibu terdiam. 

"Sebetulnya itu kepengen anaknya apa kepengen orang tuanya? Ada enggak yang pernah kepikiran sampai di titik situ, Ibu-Ibu?" tanya Ning Ghyta.

Ia mengingatkan, orang tua bisa memilih pasangan hidup. Tapi anak tidak pernah bisa memilih dari keluarga mana ia dilahirkan. Karena itu, pola asuh harus dibangun di atas dasar kasih, bukan tekanan.

"Jangan sampai harapan kita jadi beban di pundak anak-anak," ujarnya.

Perkenalkan "Kurikulum CINTA" untuk Orang Tua Jember

Untuk memudahkan, Ning Ghyta memperkenalkan "Kurikulum CINTA" bagi orang tua, yang tergambar dalam Kata " C, I, N, T, A". Yakni 

1. C = Cari cara sepanjang masa 

2. I = Ingat impian keluarga

3. N = Nerima tanpa drama 

4. T = Tidak takut salah

5. A. = Asyik main bersama

Ia menegaskan mengasuh anak adalah proses belajar terus-menerus. Jika satu cara tidak berhasil, orang tua harus mau mencoba cara lain.

Ning Ghyta juga mengibaratkan anak seperti bibit tanaman. "Bibit cabai tidak bisa dipaksa jadi semangka. Tugas kita memberi perawatan dan lingkungan baik agar tumbuh sesuai potensinya," kata dia.

Selain potensi, Ning Ghyta menyorot pentingnya rumah sebagai tempat aman secara emosional. Ia meminta orang tua hadir utuh: letakkan HP, dengarkan, beri empati, validasi perasaan anak.

"Anak tidak cukup dibilang tidak broken home. Tapi bagaimana dengan luka emosionalnya? Hadirlah saat mereka butuh," tegasnya.

Ia menekankan, menjadi orang tua yang otoritatif, bukan otoriter adalah kunci menumbuhkan potensi terbaik anak.

Menurut Ning Ghyta, menciptakan lingkungan tumbuh kembang anak butuh kolaborasi. Keluarga, PKK, komunitas anak, organisasi perempuan, pemerintah, dan masyarakat harus jalan bareng.

"Kalau kita enggak gandengan tangan, enggak bisa. Segala permasalahan kalau dikerjakan sendiri, capek, ruwet," pungkasnya.

Di akhir acara, Ning Ghyta juga menyerahkan penghargaan kepada pemenang Festival Anak Jember kategori Short Movie Edukasi, Tari Kreasi, dan Solo Vocal. 

Ajang itu digelar Dinas Pendidikan Jember pada 29 Juli dan 1 Agustus 2026 sebagai ruang anak berkreasi dan menunjukkan bakat. (Hafit)