Neraca Perdagangan Bengkulu Masih Surplus, tetapi Nilai Ekspor Anjlok pada Mei 2026

Create: Sun, 05/07/2026 - 19:25
Author: Admin 3
Tags

 

BENGKULU, eWarta.co – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu mencatat neraca perdagangan Bengkulu selama Januari hingga Mei 2026 masih berada pada posisi surplus. Namun, besaran surplus tersebut mengalami penurunan tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu seiring merosotnya kinerja ekspor daerah.

Kepala BPS Provinsi Bengkulu, Win Rizal, mengatakan berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) Nomor 42/07/17/Th. XXVIII yang dirilis pada 1 Juli 2026, neraca perdagangan Provinsi Bengkulu selama Januari–Mei 2026 mencatat surplus sebesar US$15,74 juta.

"Meskipun masih surplus, nilainya menurun cukup signifikan. Pada periode Januari hingga Mei tahun 2025 surplus neraca perdagangan Bengkulu mencapai US$51,03 juta, sehingga tahun ini terjadi penurunan sebesar 69,16 persen," ujar Win Rizal.

BPS juga mencatat nilai ekspor Bengkulu pada Mei 2026 hanya mencapai US$0,01 juta. Nilai tersebut turun sangat tajam, yakni 99,91 persen dibandingkan April 2026 yang mencapai US$8,20 juta dan turun 99,84 persen dibandingkan Mei 2025 yang sebesar US$4,57 juta.

Sementara itu, pada Mei 2026 tidak tercatat adanya aktivitas impor ke Provinsi Bengkulu sehingga seluruh neraca perdagangan pada bulan tersebut ditopang oleh kegiatan ekspor.

Win Rizal menjelaskan, secara kumulatif selama Januari hingga Mei 2026 terdapat sejumlah komoditas ekspor yang mengalami penurunan cukup dalam. Penurunan terbesar terjadi pada kelompok berbagai barang buatan pabrik, buah-buahan, olahan dari tepung, serta plastik dan barang dari plastik yang seluruhnya turun hingga 100 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain itu, ekspor golongan binatang hidup turun 99,01 persen, karet dan barang dari karet turun 96,35 persen, pakaian dan aksesorinya (rajutan) turun 91,03 persen, ikan, krustasea dan moluska turun 68,65 persen, serta bahan bakar mineral turun 67,73 persen.

Di sisi lain, terdapat beberapa komoditas yang justru mencatat pertumbuhan positif. Ekspor karya seni, barang kolektor, dan barang antik meningkat sebesar 176,24 persen, sedangkan komoditas garam, belerang, batu, dan semen naik 82,97 persen dibandingkan periode Januari–Mei 2025.

Jika dibandingkan dengan April 2026, penurunan ekspor pada Mei 2026 terjadi hampir di seluruh sektor usaha. Ekspor sektor industri pengolahan merosot 99,90 persen, sektor pertambangan dan lainnya turun 99,93 persen, sedangkan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mengalami penurunan sebesar 96,29 persen.

Berdasarkan negara tujuan ekspor, Pakistan masih menjadi pasar terbesar bagi produk asal Bengkulu selama Januari hingga Mei 2026 dengan nilai ekspor mencapai US$5,54 juta atau berkontribusi 35,18 persen terhadap total ekspor daerah. Posisi berikutnya ditempati Thailand dengan nilai ekspor US$5,15 juta atau 32,75 persen, disusul India sebesar US$4,10 juta atau 26,02 persen.

Menurut Win Rizal, meski neraca perdagangan Bengkulu masih mencatat surplus, penurunan tajam nilai ekspor menjadi perhatian karena dapat memengaruhi kinerja perdagangan luar negeri daerah. Oleh sebab itu, diperlukan upaya untuk memperkuat daya saing produk ekspor dan memperluas pasar tujuan agar kinerja ekspor Bengkulu kembali meningkat pada bulan-bulan berikutnya.