JEMBER, ewarta.co — Pilu yang dirasakan Sunaryo alias Pak Yo (58)—pria sebatang kara warga Dusun Tegalan, Desa Sumberkejayan, Kecamatan Mayang, Jember—kini berganti dengan senyum kebahagiaan. Rumahnya yang ludes terbakar saat ditinggal bekerja sebagai buruh tani pada 7 September 2026 lalu, kini telah berdiri kembali dan jauh lebih layak huni.
Renovasi ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan sosial menyambut momentum Kick-Off Hari Santri Nasional (HSN) 2026, sekaligus menindaklanjuti instruksi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Rois Syuriah MWCNU Mayang, KH Su'udi Munir, S.Pd.I., M.Pd.I., mengungkapkan bahwa keberhasilan renovasi rumah ini terwujud berkat kekompakan para pengurus MWCNU, lembaga, dan badan otonom yang dikoordinir oleh NU Care-LAZISNU Mayang.
"Berkat kekompakan pengurus MWCNU, lembaga, dan badan otonom yang dikoordinir NU Care-LAZISNU Mayang, serta dukungan kader penggerak dan warga Nahdliyyin, kita tidak hanya melakukan bedah rumah, tetapi juga melengkapinya dengan berbagai peralatan rumah tangga," ujar KH Su'udi Munir, Sabtu (17/10/2026).
Tidak sekadar membangun fisiknya, MWCNU Mayang juga mengisi rumah tersebut dengan perabotan lengkap. Mulai dari penanak nasi otomatis (magic com), tempat tidur (springbed), hingga sepeda angin untuk mendukung mobilitas korban sehari-hari.
"Harapan kami, rumah yang telah dibangun ini menjadi tempat tinggal yang membawa berkah, serta membuat penghuninya merasa betah dan nyaman," tambahnya.
Aksi sosial ini turut melibatkan para kader NU yang bahu-membahu bergotong royong sebagai wujud nyata empati dan solidaritas atas musibah yang menimpa Sunaryo.
Sementara itu, Camat Mayang, Muhammad Najmul Huda, memberikan apresiasi tinggi atas kepedulian sosial yang ditunjukkan oleh MWCNU Mayang. Ia menyampaikan terima kasih karena telah membantu meringankan beban warganya hingga bisa kembali memiliki tempat tinggal yang layak.
"Saya mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada MWCNU Mayang yang telah membantu bedah rumah warga kami sehingga bisa ditempati kembali, bahkan lebih baik dari sebelumnya dan lengkap dengan isinya. Ini adalah bentuk kolaborasi yang sangat baik antara tokoh agama, masyarakat, dan pemerintah setempat," pungkas Najmul Huda.
Sebagai informasi, musibah kebakaran tersebut terjadi pada Senin, 7 September 2026. Rumah Sunaryo ludes terbakar saat ia tengah bekerja di sawah sebagai buruh tani, yang diduga akibat korsleting listrik di bagian depan rumah.
Penulis: Hafit










