Maggot Jadi Solusi Pemkot Bengkulu Kurangi Sampah Organik

Create: Thu, 10/09/2026 - 16:07
Author: Admin 3

 

Bengkulu, eWarta.co -- Pemerintah Kota Bengkulu mendorong pengolahan sampah organik menjadi maggot sebagai salah satu upaya mengurangi timbunan sampah sekaligus meningkatkan nilai ekonomi masyarakat. Program ini dikembangkan melalui Berendo Maggot di Kelurahan Tanah Patah, Jalan Musium RT 9/RW 3, yang menjadi bagian dari program kerja mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) tahun 2026.

Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi mengatakan, pengelolaan maggot di Tanah Patah akan dijadikan sebagai percontohan untuk dikembangkan di kelurahan lain. Budidaya tersebut juga terintegrasi dengan kolam ikan lele dan ternak itik, dengan maggot dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif pakan.

“Diawali di Kelurahan Tanah Patah dan mahasiswa KKN UMB, kita lihat pengolahan maggot ini bisa terintegrasi dengan kolam lele dan budidaya itik. Ini menjadi percontohan yang nanti akan kita kembangkan di seluruh kelurahan,” kata Dedy, Kamis (10/9).

Menurut Dedy, sampah organik atau sampah basah yang selama ini tidak memiliki nilai guna dapat diolah menjadi maggot. Sementara untuk sampah plastik, sudah terdapat pihak yang menampung untuk selanjutnya didaur ulang.

Pemkot Bengkulu juga tengah mengkaji kemungkinan penggunaan dana kelurahan untuk mendukung pengembangan budidaya maggot. Namun, rencana tersebut masih harus disesuaikan dengan ketentuan dan regulasi yang berlaku.

“Semoga nanti bisa kita anggarkan dana kelurahan secara khusus untuk pengelolaan maggot, tetapi kita masih melihat regulasinya,” ujarnya.

Dedy menekankan agar pengelolaan maggot tidak hanya berjalan pada tahap awal ketika antusiasme masyarakat masih tinggi. Program tersebut harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan agar mampu memberikan manfaat dalam mengurangi sampah sekaligus menghasilkan nilai ekonomi.

“Jangan hanya semangat di awal dan kemudian berhenti. Ini harus dilakukan terus-menerus, sehingga sampah yang sebelumnya tidak berguna bisa menjadi maggot yang berguna dan penuh manfaat,” tutur Dedy.

Ia menilai budidaya maggot memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bagian dari pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Selain membantu mengurangi sampah organik, maggot dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pakan untuk ikan dan ternak sehingga berpotensi menekan biaya budidaya.

Dedy juga mengapresiasi kolaborasi mahasiswa KKN UMB dengan pemerintah kelurahan dalam mengembangkan pengelolaan sampah organik. Ia berharap model yang diterapkan di Tanah Patah dapat menjadi contoh bagi kelurahan lain untuk mengembangkan program serupa sesuai potensi masing-masing.