BENGKULU, ewarta.co – Sebanyak 40 mahasiswa anyar Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Bengkulu (Unib) mendapatkan pembekalan etika bermedia sosial dan cek fakta dari Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) Bengkulu, Senin (10/8/2026).
Kegiatan yang digelar di Gedung GB2 FISIP Unib ini menghadirkan jajaran pengurus Mafindo, yakni Iud Dwi Mursito, Fonika Thoyib, Gushevinalti, dan Rafinita Aditya.
Dalam materinya, Sekretaris DPW Mafindo Bengkulu, Iud Dwi Mursito, mengingatkan mahasiswa tentang bahaya jejak digital yang permanen.
"Jempol hanya butuh detik, dampaknya bisa bertahun-tahun. Tidak semua yang benar harus diumbar dan tidak semua yang viral layak disebarkan," ujar Iud.
Ia mendorong mahasiswa menerapkan saringan THINK (True, Helpful, Inspiring, Necessary, Kind) sebelum mengunggah apa pun ke jejaring sosial.
Ketua DPW Mafindo Bengkulu, Fonika Thoyib, menambahkan bahwa konten hoaks umumnya dirancang untuk memancing emosi dan menggunakan judul provokatif.
"Semakin kuat emosinya, semakin wajib dicek. Emosi adalah pintu masuk paling mudah bagi hoaks," terang Fonika. Mahasiswa diminta selalu melakukan verifikasi, termasuk mewaspadai manipulasi konten berbasis kecerdasan buatan (AI) serta menjaga kerahasiaan data pribadi seperti KTP, KTM, dan OTP.
Di sisi lain, Dewan Pengawas DPP Mafindo, Gushevinalti, mengajak mahasiswa menggunakan media sosial untuk membangun portofolio positif lewat karya dan prestasi.
Untuk mempermudah ingatan, Mafindo memperkenalkan konsep 5J:
* Jaga Jempol
* Jaga Informasi
* Jaga Privasi
* Jaga Perkataan
* Jaga Jejak Digital
"Saring sebelum sharing. Cek fakta sebelum percaya," pungkasnya. (**)










