BENGKULU, eWarta.co – Aroma ketidakprofesionalan mulai membayangi menjelang Konferensi Provinsi (Konferprov) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bengkulu 2026. Proses verifikasi syarat dukungan bakal calon ketua kini menjadi sorotan tajam setelah mencuatnya isu manipulasi data, mulai dari puluhan dukungan ganda hingga ketidakjelasan Daftar Pemilih Tetap (DPT).
Desakan keras agar Steering Committee (SC) bersikap jujur dan membuka seluruh tahapan ke publik disuarakan oleh Supratman, S.Sos., M.Si., salah satu pengurus sekaligus pemilik hak suara sah PWI Provinsi Bengkulu.
"Saya dengar ada puluhan dukungan ganda. Kemudian ada juga dukungan yang dibatalkan karena pemilik suaranya sudah pindah ke luar Bengkulu. Selain itu, sebenarnya berapa jumlah DPT yang akan digunakan? Yang diberikan baru DPS. Ini menjadi pertanyaan besar," tegas pria yang akrab disapa Iwan ini, Sabtu (11/7/2026).
Saat ini, proses pemeriksaan berkas untuk tiga kandidat yang mendaftar memang masih bergulir di meja panitia. Ketiga pasang kandidat tersebut adalah:
* Aftarizal Doni yang berpasangan dengan calon Dewan Kehormatan (DK) Benny Bernardie.
* Iyud Dwi Mursito yang berpasangan dengan calon DK Dian Marfani.
* Marsal Abadi (Petahana) yang berpasangan dengan calon DK Sukatno.
Namun, ketatnya persaingan ini justru dinodai oleh dugaan manuver politik yang tidak sehat. Temuan mengenai puluhan surat dukungan ganda serta adanya klaim dukungan dari anggota yang secara administratif sudah pindah ke luar Provinsi Bengkulu, dinilai sebagai bentuk pengabaian terhadap regulasi organisasi.
Kritik tajam Iwan juga menyasar kinerja SC yang terkesan "menyembunyikan" data pemilih. Hingga saat ini, panitia hanya merilis Daftar Pemilih Sementara (DPS), sementara DPT yang krusial untuk menentukan keabsahan suara justru masih misterius.
Ketertutupan ini dinilai berpotensi menjadi celah manipulasi suara yang dapat merusak legitimasi ketua terpilih nantinya. Sebagai organisasi profesi jurnalis yang seharusnya menjadi pilar kontrol sosial dan keterbukaan informasi, PWI Bengkulu justru dituntut untuk menerapkan prinsip tersebut ke dalam internal mereka sendiri.
SC Konferprov PWI Bengkulu kini ditantang untuk berani membuka hasil verifikasi dukungan dan menetapkan DPT secara terang-benderang. Keterbukaan ini bukan sekadar formalitas, melainkan harga mati untuk menjaga marwah organisasi dan memastikan Konferprov 2026 melahirkan pemimpin yang bersih, demokratis, dan bebas dari cacat prosedural. (**)










