BENGKULU,eWARTA.co -- Sarah Qomairah (14) pelajar kelas tujuh madrasah tsanawiyah di Kota Bengkulu harus berjibaku dengan keadaan. Akibat pandemi COVID-19 yang berlangsung hampir dua tahun, Ia harus rela mengais sampah demi bertahan hidup dan menambah biaya sekolah yang ia tempuh.
Sarah merupakan anak yang pendiam, tetapi lincah dan gesit memilah sampah di sepanjang jalan di kawasan Kecamatan Kampung Melayu dan kecamatan Selebar Kota Bengkulu.
Perempuan ini sudah sejak kelas tiga SD menjalankan profesinya sebagai pemulung, atau sejak ditinggalkan ayahnya yang wafat sejak 10 tahun yang lalu. Ditambah keadaan pandemi ini, beban Sarah kian bertambah.
Saat ini tinggal menumpang di lahan kebun sawit milik Basori di Jalan Setia Negara RT 14 RW 05 Kelurahan Kandang Mas Kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu.
Sarah tidak menghiraukan aroma yang menyengat dan banyaknya lalat pada gundukan sampah-sampah yang dia kumpulkan sebelum dijual. Anak ketiga dari empat bersaudara ini, mengisahkan kisah hidupnya sebagai pemulung demi membantu ibunya Rosti Nuraini yang berkerja serabutan di rumah tetangga sekeliling rumahnya.
Di situasi pandemi ini, Sarah mengaku mengais sampah juga untuk bertahan hidup. Namun dia merasa bersyukur dengan pekerjaan yang digelutinya, selain untuk membantu mencukupi kebutuhan keluarganya. Ia juga dapat membiayai sekolah serta kebutuhan adik bungsunya.
"Saya lakukan ini semua untuk membantu kebutuhan keluarga dan untuk biaya sekolah," kata Sarah.
Sarah menjelaskan, mencari barang bekas dilakukan dari siang hingga sore. Itu dilakukan setiap hari sepulang sekolah. Namun karena pandemi dan belajar dilaksanakan melalui daring, membuat Sarah harus menyesuaikan jadwal yang telah disusun oleh dewan gurunya di Madrasah.
"Situasi saat ini, biasanya saya mulai mencari barang bekas, setelah jam belajar daring selesai," ungkap Sarah.
Dalam sehari, Sarah mengaku rata-rata penghasilan yang ia dapat dari hasil memulung ini sekitar Rp20.000 hingga Rp30.000.
“Sebelum barang bekas ini kami jualkan, kami pilah-pilah jenis sampahnya. Kemudian baru kami jualkan," jelas Sarah.
Sarah berharap, dirinya tetap bisa sekolah dan dapat mengubah nasib keluarganya saat ini. Semangat Sarah. (Bisri)









