Opini Muhammad Aufal Fresky
Saya akan mengawali catatan ini dengan sebuah cerita pesulap hebat bernama Houdini. Ia juga dikenal sebagai seorang ahli kunci yang sangat mengagumkan. Terbukti, dari sekian banyak tantangan yang dihadapinya, ia selalu berhasil membuka kunci dan meloloskan diri. Tidak hanya itu, ia sesumbar bahwa ia mampu meloloskan diri dari penjara mana saja yang ada di dunia dalam waktu kurang dari satu jam. Pernyataannya tersebut semakin memancing rasa penasaran orang-orang untuk menonton aksi selanjutnya.
Pada suatu ketika, di sebuah kota kecil, dibangunlah penjara baru untuk menantang Houdini. Tantangan tersebut diterimanya. Apalagi hadiah yang ditawarkan cukup menjanjikan. Selama beberapa waktu, ia mempersiapkan diri sebaik mungkin dengan berbagai latihan. Hingga tiba saat yang dinanti-nanti. Warga mulai berdatangan untuk melihat peristiwa bersejarah tersebut. Tidak ketinggalan, banyak jurnalis hadir untuk meliput momentum tersebut.
Di dalam sabuknya, ia menyembunyikan sekeping baja yang kuat dan lunak berukuran satu 10 inci yang digunakan untuk membuka kunci. Houdini mulai melancarkan aksinya. Setengah jam berlalu, penjara belum terbuka juga. Ia mulai was-was dan khawatir aksinya gagal. Waktu seolah berjalan cepat. Setelah satu jam, ia bermandikan keringat. Penjara masih tertutup rapat. Dua jam kemudian, ia ambruk mengenai pintu penjara. Dan di waktu itu pula, penjara terbuka. Ternyata, sejak awal pintu penjara tidak pernah dikunci. Houdini terkecoh oleh pikirannya sendiri. Ia terjebak dalam 'penjara mental'. Sebab, dalam pikirannya, pintu tersebut terkunci.
Dari kisah di atas, ada pelajaran yang bisa kita petik. Bahwa terkadang, kita suka menciptakan penjara dalam pikiran kita sendiri. Pesimis dan mengkerdilkan kemampuan diri. Merasa belum bisa, padahal belum mencoba. Kita membatasi potensi diri yang seharusnya tumbuh berkembang. Ya, kita sering berpikir negatif ketika mendapati rintangan. Padahal, masalah merupakan tangga menaiki kesuksesan. Sebenarnya, musuh terbesar itu menyatu dalam diri. Seperti halnya pikiran negatif yang membatasi diri.
Penjara pikiran akan membelenggu inovasi dan kreativitas kita. Bahkan, membuat kita malas bergerak atau enggan melakukan hal-hal yang produktif. Sebab, sebelum melangkah, pikiran telah terkontaminasi virus. Kita terperangkap oleh penjara yang kita ciptakan sendiri dalam pikiran. Dampaknya, kita sukar berkembang. Sebab selalu memandang segala sesuatu secara negatif.
Oleh karena itu, penting kiranya kita selalu merawat pikiran agar selalu positif. Percayalah, pikiran positif akan memunculkan rasa optimis dan meningkatkan kepercayaan diri. Sejatinya, kita sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Dalam hal ini, pikiran memiliki kekuatan luar biasa untuk membentuk diri. Biasanya, kita menelan mentah-mentah pernyataan negatif yang dilontarkan orang sekitar kita. Lingkungan memang cukup berpengaruh dalam proses pengembangan diri. Kita dituntut untuk bisa menyaring apa-apa yang masuk dalam pikiran. Jangan sampai lingkungan mengendalikan alam pikiran kita.
Pada intinya, tulisan ini bertujuan untuk mengajak kita semua agar berani mendobrak 'penjara-penjara mental'. Kita harus merdeka dalam berpikir, bercita-cita, dan berkreasi. Jangan pernah batasi diri. Kita berhak menjadi apa pun yang kita impikan. Ubahlah anggapan 'aku tidak bisa' menjadi 'aku bisa'. Jika orang lain mampu, kenapa kita tidak? Bukankah kita sama-sama makan nasi dan memiliki waktu 24 jam sehari?
*Penulis buku 'Empat Titik Lima Dimensi'









