JFC ke- 24 Usung "Red Carpet" dan Kisah Dewi Bumi, Bukan Glamor tapi Mesin Ekonomi Baru Jember

 

JEMBER, ewarta.co – Jember Fashion Carnaval 2026 memasuki tahun ke-24 dengan konsep paling berbeda. Presiden JFC, Budi Setiawan menyebut gelaran kali ini mengusung "JFC Red Carpet" dan pertunjukan teatrikal tentang perjalanan "Dewi Bumi".

Perbedaan itu sengaja dibuat agar JFC tidak hanya jadi tontonan, tapi juga sorotan dunia.

“Ada perbedaan konsep yang sangat mendasar di perjalanan JFC ke-24 ini. Kalau kita bicara di dalam event-nya sendiri itu ada konsep tampilan yang berbeda yang dibuat menjadi satu story, lalu kemudian baru dibuat parade,” ujar pria yang biasa dipanggil Iwan ini, dikutip ewarta.co.

Iwan menegaskan tema "Red Carpet" tahun ini bukan untuk kemewahan semata. Ini adalah strategi agar mata dunia tertuju ke Jember.

“Untuk red carpet jangan dilihat dari sisi glamornya saja. Namun bisa kita semua lihat menjadi media untuk menjadikan highlight. Highlight untuk membuat orang melihat tentang Jember, jadi Jember yang indah,” jelasnya.

Red carpet JFC 2026 akan dipadati bintang. Mulai dari artis senior Bunda Christina Hakim, 12 Putri Indonesia, hingga penyanyi Krisdayanti. Mereka berjalan berdampingan dengan "bintang-bintang" asli JFC: para talent yang sudah berkorban berbulan-bulan menciptakan karya.

“Karena ini tadi bertabur bintang, lalu kemudian dipadu lagi dengan bintang-bintang talent JFC. Karena mereka sudah berkarya, berkorban semuanya berbulan-bulan untuk menghasilkan sebuah karya. Dan pada saat mereka tampilkan di JFC mereka juga sebagai bintang,” kata Iwan.

"Untuk Krisdayanti dijadwalkan tampil Sabtu malam," sambungnya.

Teatrikal "Dewi Bumi" dan Pesan Kemanusiaan.

Secara keseluruhan, pertunjukan JFC 2026 dikemas dalam satu cerita besar. Konsep teatrikalnya menggambarkan perjalanan "Dewi Bumi" mencari kebijakan di tengah dinamika dunia.

“Konsep teatrikalnya adalah penggambaran satu cerita melalui konsep drama. Dari perjalanan itu pada akhirnya dewi bumi menemukan suatu kesimpulan bahwa untuk menjadi manusia itu tidak harus sempurna. Tapi untuk menjadi manusia itu adalah bagaimana mereka bisa peduli kepada sesama,” paparnya.

Total lebih dari 1.500 orang terlibat dalam karnaval ini. Mereka datang dari Jember, luar daerah, hingga mancanegara.

Dukungan penuh juga datang dari Bupati Jember Muhammad Fawait. Ia menyebut JFC sudah 24 tahun menjadi tempat lahirnya tokoh nasional di bidang politik, seni, dan budaya.

“JFC ini menjadi sebuah kawah candradimuka terkait untuk generasi-generasi penerus dunia karnaval,” kata Gus Fawait.

Lebih dari itu, ia menekankan dampak ekonomi JFC. “JFC selalu berdampak positif secara ekonomi. Khususnya kepada pergerakan ekonomi sektor informal. Hotel-hotel penuh. Juga sektor UMKM. UMKM juga pasti akan mendapatkan omset yang lebih dibanding hari-hari biasanya.”

Gus Fawait berkomitmen JFC ke depan akan dirancang lebih berdampak lagi.

 “Tujuan akhirnya adalah pengentasan kemiskinan. Jadi selain menjadi kawah candradimuka, juga berdampak pada perputaran keuangan dan pertumbuhan ekonomi,” pungkasnya.

Dengan konsep baru dan dukungan penuh Pemkab, JFC 2026 ditargetkan bukan hanya memukau, tapi juga meningkatkan nilai ekonomi dan membuat orang semakin ingin datang ke Jember. (Hafit/prw)