Jember Jadi Percontohan Nasional Pengentasan Kemiskinan, BP Taskin Apresiasi Pemutakhiran Data DTSEN

 

JEMBER, eWarta.co – Upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember dalam melakukan pemutakhiran Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sukses menarik perhatian di tingkat nasional. Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) menilai langkah taktis Pemkab Jember ini sangat layak dijadikan contoh bagi daerah lain di Indonesia dalam mengakselerasi pengentasan kemiskinan.

​Apresiasi tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Kepala BP Taskin, Iwan Sumule, dalam acara Sosialisasi Rencana Induk Percepatan Pengentasan Kemiskinan (RINDUK) dan Inovasi Daerah di Jakarta Pusat, Kamis (21/5/2026). Forum strategis ini diikuti secara luring dan daring oleh jajaran kementerian/lembaga, 38 pemerintah provinsi, serta 514 pemerintah kabupaten dan kota se-Indonesia.

​Menurut Iwan, pembaruan DTSEN merupakan fondasi utama agar seluruh program intervensi kemiskinan bisa tepat sasaran.

​"Kalau data DTSEN tidak diperbarui (updating) secara baik, maka intervensi program pengentasan kemiskinan tidak akan tepat sasaran,” tegas Iwan.

​Ia menjelaskan bahwa pemerintah pusat saat ini sedang menyusun RINDUK berdasarkan Perpres Nomor 163 Tahun 2024, dengan target menurunkan angka kemiskinan nasional menjadi 4,5 hingga 5 persen pada tahun 2029. Strategi besar ini dibangun di atas lima pilar utama: Sistem Penargetan Nasional, Perlindungan Sosial, Graduasi Kemiskinan, Pemberdayaan Ekonomi, dan Satu Dana Pengentasan Kemiskinan.

​Langkah Pemkab Jember menuai pujian khusus karena berhasil menggerakkan sekitar 20 ribu Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk turun langsung ke lapangan guna melakukan verifikasi dan validasi data masyarakat. Bahkan, proses pemutakhiran data tersebut tetap berjalan secara militan di hari libur dan di luar jam kerja resmi.

​Bupati Jember, Muhammad Fawait, mengungkapkan bahwa pengerahan seluruh kekuatan birokrasi ini sengaja dilakukan demi menjamin keakuratan data warga miskin.

​"Kalau sudah terjadi kendala di lapangan, tentu tidak ideal. Kita harus bekerja bersama-sama," ujar bupati yang akrab disapa Gus Fawait tersebut.

​Ia tidak menampik bahwa kebijakan ini sempat memicu kontroversi di awal penerapannya. Namun, Pemkab Jember terus memberikan pemahaman kepada para ASN bahwa pemutakhiran data ini merupakan bagian krusial dari agenda nasional.

​Melihat keberhasilan tersebut, BP Taskin menilai model yang diterapkan Jember bisa direplikasi oleh daerah lain sesuai karakteristik wilayah masing-masing. Gus Fawait menambahkan, Jember kini resmi diposisikan sebagai laboratorium percontohan nasional.

​“Kami diminta melakukan pemaparan di depan para kepala daerah di seluruh Indonesia, baik yang hadir langsung maupun daring, dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota,” jelasnya.

​Gus Fawait menegaskan bahwa pencapaian ini baru langkah awal. Setelah memaksimalkan pemanfaatan data desil 1, Pemkab Jember akan melanjutkannya ke desil 2 yang kemudian diselaraskan dengan berbagai program daerah lainnya. Target besarnya, angka kemiskinan di Jember dapat ditekan secara drastis hingga di bawah 200.000 jiwa.

​Sebagai informasi, forum sosialisasi tersebut juga menghadirkan pemaparan dari Kemendagri, Kementerian PPN/Bappenas, Kemensos, dan KemenPANRB terkait penguatan implementasi RINDUK. Selain itu, BP Taskin terus mendorong optimalisasi SITASKIN sebagai ekosistem kolaboratif pengentasan kemiskinan berskala nasional. (Hafit)