BENGKULU, eWarta.co – Peluang investasi dari Malaysia mulai mengarah ke sektor industri pengolahan di Provinsi Bengkulu. Salah satu proyek yang menarik perhatian investor adalah pembangunan pabrik pakan ikan di Kabupaten Bengkulu Selatan, yang dinilai memiliki prospek bisnis menjanjikan karena telah mempunyai pasar potensial.
Ketertarikan tersebut disampaikan Zaha Izrin Zahari, Honorary Secretary Malaysia yang mewakili Malaysia Chamber of Commerce Indonesia, seusai mengikuti kegiatan Bencoolen Regional Investment and Economic Forum (BRIEF) 2026 bertajuk “Connecting Opportunities, Driving Economic Transformation” di Hotel Mercure Bengkulu, Senin (12/10/2026).
Zahar mengaku baru mengetahui besarnya potensi ekonomi Bengkulu setelah mengikuti forum investasi tersebut. Selain industri pakan ikan, ia melihat peluang pengembangan sektor perikanan, pengolahan hasil laut, kopi, hingga pariwisata yang berpotensi menarik minat pelaku usaha Malaysia.
“Saya lebih tertarik investasi di dalam pabrik yang sudah ada pasarnya. Tadi saya bertemu dengan pihak yang menawarkan potensi investasi pabrik pakan ikan di Bengkulu Selatan. Itu menarik sekali karena menurut Pak Kadis sudah ada pasarnya,” ujar Zahar.
Menurutnya, kepastian pasar menjadi pertimbangan utama investor sebelum menanamkan modal. Dengan adanya pasar yang sudah terbentuk, risiko bisnis dinilai lebih terukur sehingga lebih mudah menarik investor dari Malaysia.
Zahar menjelaskan, dirinya juga telah menggali informasi mengenai kesiapan administrasi proyek tersebut kepada sejumlah pejabat pemerintah daerah, termasuk kepala dinas terkait dan sekretaris daerah.
Dari penjelasan yang diterimanya, lahan proyek disebut berada di bawah penguasaan pemerintah daerah, sementara mekanisme investasi memungkinkan investor asing menanamkan modal melalui perusahaan pelaksana proyek.
“Setelah dicek kembali dengan Pak Kadis dan Sekda, katanya semua urusan administrasi sudah aman. Lahannya di bawah Pemda, dan investasi dari Malaysia bisa langsung masuk ke perusahaan yang sudah diberikan proyek,” jelasnya.
Meski menunjukkan ketertarikan, Zahar belum menyampaikan nilai investasi maupun kepastian realisasi proyek tersebut. Ia mengisyaratkan bahwa investasi berskala lebih besar tetap membutuhkan pertimbangan lebih lanjut.
Kopi Bengkulu Berpeluang Masuk Pasar Malaysia
Selain industri pakan ikan, Zahar menilai kopi Bengkulu memiliki peluang besar untuk menembus pasar Malaysia, terutama jenis robusta yang sesuai dengan karakter selera konsumen di negara tersebut.
Menurutnya, Malaysia masih membutuhkan pasokan kopi dari luar negeri karena produksi domestik belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan pasar.
“Kalau di Malaysia, kita punya kopi robusta dan liberika, tetapi produksinya sedikit sekali. Untuk arabika ada di Sabah, tetapi pasokannya juga belum cukup. Makanya Malaysia masih impor kopi,” ungkapnya.
Zahar mengaku baru mengetahui potensi kopi Bengkulu setelah menghadiri BRIEF 2026. Bahkan, ia mendengar informasi bahwa sebagian kopi yang dipasarkan menggunakan identitas daerah lain diduga berasal dari Bengkulu.
Namun, informasi mengenai asal-usul dan jalur perdagangan kopi tersebut masih memerlukan penelusuran lebih lanjut.
Setelah mencicipi kopi Bengkulu, Zahar menilai cita rasanya memiliki peluang diterima konsumen Malaysia.
“Bengkulu punya robusta, dan itu sesuai dengan selera orang Malaysia. Orang Malaysia suka kopi yang lebih kuat. Jadi sebenarnya kopi Bengkulu bisa masuk,” katanya.
Ia melihat peluang perdagangan kopi antara Bengkulu dan Malaysia masih terbuka, terutama jika pelaku usaha mampu menjaga kualitas, kontinuitas pasokan, serta membangun jaringan pemasaran.
Konektivitas Penerbangan Jadi Kunci Pariwisata
Sementara itu, untuk sektor pariwisata, Zahar menilai Bengkulu mempunyai daya tarik yang dapat dikembangkan menjadi tujuan wisata internasional.
Namun, keterbatasan akses penerbangan langsung dari luar negeri dinilai masih menjadi tantangan dalam menarik wisatawan maupun investor sektor pariwisata.
Menurutnya, pembukaan konektivitas penerbangan internasional, khususnya rute Bengkulu–Kuala Lumpur, berpotensi memperbesar peluang kunjungan wisatawan dari Malaysia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.
“Kalau ada konektivitas langsung, tentu lebih bagus. Dari Malaysia, Singapura, bahkan Thailand juga bisa masuk. Kalau belum ada penerbangan internasional, orang agak susah datang,” ujarnya.
Zahar menambahkan, kepastian akses transportasi menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menghitung tingkat pengembalian investasi atau return on investment (ROI) pada sektor pariwisata.
“Kalau pariwisata saya melihat ada potensi, cuma ROI-nya menurut saya pribadi belum jelas karena masalah konektivitas. Kalau konektivitasnya sudah pasti, peluangnya akan lebih bagus,” jelasnya.
BRIEF Buka Peluang Kerja Sama Investasi
Zahar yang juga merupakan pengusaha teknologi di Malaysia mengatakan, perusahaannya bergerak dalam pengembangan platform pengelolaan sumber daya manusia berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Teknologi tersebut digunakan untuk membantu perusahaan menemukan kandidat tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan bisnis.
Meski memiliki latar belakang usaha di bidang teknologi, ia melihat sektor industri pengolahan di Bengkulu sebagai peluang investasi yang menarik karena didukung potensi sumber daya lokal.
Menurutnya, forum BRIEF memberikan kesempatan bagi pelaku usaha internasional untuk mengenal langsung potensi daerah yang sebelumnya belum banyak diketahui.
Kegiatan tersebut juga membuka ruang komunikasi antara calon investor dan pemerintah daerah mengenai kesiapan proyek, peluang pasar, serta persyaratan investasi.
Ketertarikan terhadap pabrik pakan ikan di Bengkulu Selatan menjadi salah satu peluang kerja sama yang muncul dari forum tersebut. Namun, tindak lanjut masih diperlukan untuk memastikan kelayakan bisnis, kesiapan proyek, dan realisasi investasi.
Bagi Zahar, Bengkulu memiliki potensi ekonomi yang layak diperkenalkan lebih luas kepada pelaku usaha internasional, terutama pada sektor industri pengolahan, perdagangan kopi, dan pariwisata.










