Bengkulu, eWarta.co -- Universitas Bengkulu (Unib) melalui Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) menggelar workshop bertema “Stop Kekerasan: Membangun Lingkungan Kampus yang Aman” di ruang rapat utama Gedung Layanan Terpadu.
Kegiatan ini menjadi ruang penyamaan persepsi sekaligus penguatan komitmen sivitas akademika untuk mewujudkan kampus yang aman dan bebas kekerasan. Workshop juga merupakan tindak lanjut Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024 serta bagian dari pelaksanaan tugas Satgas PPKPT yang terbentuk pada Juli 2025.
Ketua Satgas PPKPT Unib, Dr. Mona Ardina, menyampaikan bahwa seluruh unsur kampus perlu memahami tugas dan fungsi Satgas agar langkah pencegahan dan pendampingan dapat berjalan optimal. “Kita ingin membangun ekosistem kampus yang peduli dan tidak mentolerir kekerasan. Kita juga belajar dari praktik baik Untirta dan memperkuat sinergi lintas elemen,” ujarnya.
Workshop ini diikuti pimpinan universitas, fakultas, dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa dari delapan fakultas. Narasumber yang hadir yaitu Ketua Satgas PPKPT Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Muhamad Uut Lutfi, S.H., M.H., serta psikolog Vera Febriana, S.Psi.
Rektor Unib, Prof. Dr. Indra Cahyadinata, membuka kegiatan dan mengapresiasi langkah Satgas PPKPT. Ia menegaskan bahwa pembentukan Satgas bukan sekadar memenuhi regulasi, tetapi komitmen moral untuk menjaga ruang belajar tetap aman dan inklusif. “Membangun budaya anti kekerasan adalah tanggung jawab bersama. Membiarkan kekerasan berarti membenarkannya. Karena itu, kita harus tegas menjaga marwah kampus,” kata Rektor.
Dalam pemaparan materi, Uut Lutfi menyoroti kasus kekerasan di kampus yang sering kali tidak terlaporkan. Ia menegaskan pembiaran terhadap kekerasan sama dengan pembenaran. Menurutnya, kekerasan tak hanya berbentuk fisik dan psikis, namun juga seksual, perundungan, diskriminasi, intoleransi, hingga kekerasan berbasis relasi kuasa. “Satgas harus aktif mengedukasi agar budaya anti kekerasan tumbuh di seluruh lini,” jelasnya.
Sementara itu, Psikolog Vera Febriana menekankan pentingnya empathic interviewing skill bagi anggota Satgas dalam menangani korban. Ia mengingatkan perlunya suasana aman, mendengarkan aktif, validasi perasaan korban, serta menjaga kerahasiaan. “Pendekatan empatik membantu memberikan pendampingan yang manusiawi,” tuturnya.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan cendera mata kepada narasumber dan sesi foto bersama. Workshop ini diharapkan memperkuat langkah Unib mewujudkan lingkungan kampus yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.









