Puluhan Desa di Bengkulu Utara Jadi Lokus Penanganan Stunting

Ilustrasi. Net
Create: Sun, 07/03/2021 - 16:08
Author: Alwin Feraro

 

BENGKULU,eWARTA.co - Percepatan penurunan prevalensi stunting, pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, pada 2021 telah tetapkan sebanyak 35 desa sebagai lokasi fokus (lokus) penurunan dan pencegahan stunting.

Kepala Sub Bagian Perencanaan Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Provinsi Bengkulu Novriana Rizky Idnal mengatakan penetapan tersebut berdasarkan keputusan Bupati Bengkulu Utara Nomor : 441/163/DINKES/2020 Tentang Penambahan Desa Lokus Stunting Di Kabupaten Bengkulu Utara.

"Desa lokus tersebut meningkat dari sebelumnya pada 2020 yang sebanyak 20 desa, dan pada tahun ini bertambah sehingga menjadi 35 desa," kata Rizky, Minggu (7/3/2021).

Dijelaskan Rizky, desa lokus stunting di Bengkulu Utara terdapat Desa Suka Merindu, Desa Suka Maju, Suka Baru, Desa Suka Medan, Desa Melati Harjo, Desa Lubuk Mindai, Desa Pagardin, Tanjung Dalam, Air Lelangi, Desa Pondok Bakil, Desa Bukit Barlian, Tanjung Harapan, Desa Tanjung Sari dan SP7 Bangun Karya.

Kemudian Desa Sekiau, Desa Karang Anyar Ilir, Desa Lubuk Mumpo, dan Desa Kembang Manis. Sementara, di Kecamatan Padang Jaya terdapat Desa Lubuk Banyau, Tanah Hitam, Tambak Rejo, dan Desa Sido Luhur, Desa Pematang Sapang, Desa Sidodadi, dan Desa Gunung Besar. Dan untuk Desa Air Banai, Air Baus II, Taba Padang Rejang, dan Desa Batu Raja Kol terdapat di Kecamatan Hulu Palik.

Lalu Desa Sawang Lebar Ilir, dan Desa Sengkuang, sementara Kecamatan Air Napal terdapat empat desa yakni Desa Pasar Tebat, Desa Air Napal, Desa Pasar Bembah, dan Desa Pasir Palik.

Secara umum, stunting di Bengkulu Utara masih tergolong tinggi, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar 2018 menyebutkan kasus tersebut pada bayi dua tahun sebesar 29 persen dan bayi lima tahun sebesar 27,98 persen, dengan kategori tubuh sangat pendek dan pendek.

Sementara itu Koordinator Bidang Pengendalian Penduduk Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu Agus Supardi mengatakan peran BKKBN dalam penanganan stunting dengan intervensi sensitif berupa sosialisasi atau penyuluhan kepada keluarga/masyarakat, baik kepada keluarga ibu hamil, ibu menyusui, bahkan remaja.

"Sosialisasi kepada keluarga balita dan baduta dengan edukasi 1000 hari pertama kehidupan (HPK) serta edukasi kesehatan reproduksi (kespro) kepada remaja," kata Agus.

Seperti diketahui stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan pada anak baik pertumbuhan tubuh dan otak yang disebabkan kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek atau perawakan pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. Umumnya disebabkan asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. (Bisri)