BENGKULU,eWARA.co -- Forum Perempuan Muda Provinsi Bengkulu dampingan Cahaya Perempuan WCC mengadakan Webseries yang bertajuk "Membangun Kewirausahaan Perempuan Muda Untuk Kemandirian Ekonomi". Kegiatan ini menjadi ajang untuk memotivasi pelaku usaha muda.
"Webseries ini pada mulanya untuk ajang kumpul dan berbagi informasi sesama anggota. Namun, banyaknya perempuan muda mengeluhkan aktifitas usaha mereka yang bangkrut. Jadi, kita coba untuk menyusun strategi agar mereka semangat," ujar Lica Veronika selaku Koordinator Forum Perempuan Muda.
Webinar ini diadakan sebanyak 3 series dengan mendatangkan narasumber dari Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK) yang melakukan penguatan perempuan usaha kecil mikro dalam pengembangan usaha.
Tini Rahayu, Direktur Eksekutif Cahaya Perempuan WCC mengatakan, kesulitan ekonomi saat pandemi yang dihadapi oleh perempuan dan laki-laki muda dapat memperparah angka perkawinan anak.
"Beban sekolah daring seperti keperluan kuota, gawai yang mumpuni, tentu memerlukan uang yang cukup. Sedangkan orang tua mereka yang didominasi sektor pertanian dan swasta terdampak parah," papar Tini.
Forum Perempuan Muda dibentuk oleh Cahaya Perempuan WCC yang beranggotakan 400 perempuan dan laki-laki muda dan tersebar di 15 Desa/Kelurahan sejak tahun 2015. Berfokus pada Pemenuhan Informasi Hak Kesehatan Seksual Reproduksi (HKSR) untuk mencegah Perkawinan Anak dan Akses Layanan Kesehatan.
Fenomena perkawinan anak di Indonesia menjadi salah satu pembahasan yang saat ini marak menjadi topik dari sebuah isu besar mengenai hak dan perlindungan anak. Faktor pendorong terjadinya perkawinan usia anak, yaitu kemiskinan, putus sekolah, kehamilan yang tidak diinginkan dan adat istiadat yang masih berlaku.
Di Indonesia, terdapat lebih dari satu juta perempuan usia 20 – 24 tahun yang perkawinan pertamanya terjadi pada usia kurang dari 18 tahun (1,2 juta jiwa). Sedangkan perempuan usia 20-24 tahun yang melangsungkan perkawinan pertama sebelum berusia 15 tahun tercatat sebanyak 61,3 ribu perempuan.
Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung sejak bulan Maret hingga sekarang telah menimbulkan dampak serius bagi pelaku usaha kecil dan menengah. Hingga menyebabkan pelaku usaha gulung tikar. (Lica Veronika)









