Pelatihan 115 Pekebun Bengkulu Selatan, Teknik Panen Jadi Kunci Tingkatkan Pendapatan Sawit

Create: Sun, 13/09/2026 - 19:16
Author: Admin 3

 

BENGKULU, eWarta.co — Peningkatan pendapatan pekebun sawit tidak selalu bergantung pada perluasan lahan atau penambahan pupuk. Ketepatan menentukan waktu panen dan penanganan tandan buah segar (TBS) juga menjadi faktor penting untuk menjaga kualitas hasil kebun dan nilai jualnya.

Hal itu menjadi materi utama Pelatihan Teknis Panen dan Pascapanen yang diikuti 115 pekebun asal Kabupaten Bengkulu Selatan. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 yang digelar pada 8–12 September 2026.

Praktisi Kebun Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), Ir. Hartono, M.Si., mengatakan pekebun perlu memahami indikator kematangan TBS sebelum menentukan waktu panen. Menurutnya, panen pada waktu yang tepat dapat membantu memperoleh rendemen tinggi sekaligus menjaga kadar asam lemak bebas (ALB) tetap rendah.

“Panen yang tepat adalah panen pada tingkat rendemen tertinggi dan pada tingkat asam lemak bebas yang rendah,” kata Hartono saat membuka pelatihan di Bengkulu, Selasa (8/9/2026). Ia menyebut kemunculan brondolan dapat menjadi salah satu tanda bahwa TBS telah mencapai tingkat kematangan yang sesuai untuk dipanen.

Hartono mengingatkan TBS yang dibiarkan terlalu lama di kebun tidak otomatis menghasilkan minyak lebih banyak. Keterlambatan panen justru dapat meningkatkan kadar ALB sehingga berpotensi menurunkan kualitas minyak sawit.

“Dengan rotasi 6/7 akan mendapatkan tingkat rendemen tertinggi, tingkat asam lemak yang rendah,” ujarnya. Karena itu, kedisiplinan mengikuti rotasi panen menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas hasil kebun.

Menurut Hartono, perhatian pekebun juga harus berlanjut setelah tandan dipotong dari pohon. Brondolan perlu dikumpulkan dengan baik dan TBS segera diangkut ke pabrik kelapa sawit agar kehilangan hasil dan penurunan mutu dapat ditekan.

Ia menilai kemampuan pekebun menjadi salah satu penentu produktivitas sawit rakyat selain bibit dan pemupukan. Pengetahuan teknis perlu terus diperbarui agar pekebun mampu menyesuaikan pengelolaan kebun dengan perkembangan teknologi, perubahan iklim, dan tuntutan keberlanjutan.

“Keberhasilan sawit Indonesia ke depannya tidak hanya ditentukan oleh bibit unggul atau pupuk yang digunakan, tetapi juga ditentukan oleh kualitas manusianya, ditentukan oleh kualitas petaninya,” ungkap Hartono. Ia mendorong pekebun tidak hanya mengandalkan pengalaman, tetapi juga mau mempelajari metode baru dalam pengelolaan kebun.

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Provinsi Bengkulu, Sri Herlin Despita, S.Tp., M.P., mengatakan peningkatan kesejahteraan pekebun harus diikuti dengan perbaikan kemampuan mengelola hasil produksi. Ia menyebut luas perkebunan sawit di Bengkulu telah mencapai lebih dari 450 ribu hektare dan lebih dari 300 ribu hektare di antaranya merupakan perkebunan rakyat.

Khusus Bengkulu Selatan, daerah tersebut menjadi salah satu sentra sawit di Provinsi Bengkulu dengan posisi keempat berdasarkan produksi dan luas areal setelah Mukomuko, Bengkulu Utara, dan Seluma. Produksi CPO Bengkulu Selatan disebut mencapai lebih dari 80 ribu ton per tahun.

“Seandainya Bapak Ibu telah melaksanakan dan menerapkan hasil pelatihan ini, saya yakin produksi perkebunan kelapa sawit akan maksimal dan kualitasnya semakin baik,” kata Sri Herlin. Menurutnya, perbaikan kualitas TBS pada akhirnya diharapkan ikut meningkatkan pendapatan pekebun.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bengkulu Selatan, Binagransyah, SP, MM, mengatakan pelatihan menjadi kesempatan bagi pekebun untuk mengevaluasi cara panen yang selama ini dilakukan. Menurutnya, tuntutan terhadap harga TBS perlu diimbangi dengan upaya meningkatkan kualitas hasil dari kebun.

“Selama ini petani selalu menuntut harga yang terbaik, tetapi kita juga harus memperbaiki cara panen,” jelas Binagransyah. Ia meminta peserta menerapkan teknik dan waktu panen yang tepat agar rendemen TBS dapat meningkat.

Binagransyah juga meminta peserta membagikan pengetahuan yang diperoleh kepada pekebun lain yang belum mengikuti pelatihan. Menurutnya, penyebaran pengetahuan teknis akan membantu meningkatkan kualitas pengelolaan kebun sawit secara lebih luas.

“Ilmu yang didapat hari ini jangan hanya untuk diri sendiri, transfer juga kepada kawan-kawan yang belum sempat mengikuti pelatihan,” tuturnya. Pelatihan tersebut diikuti 115 pekebun Bengkulu Selatan dalam empat kelas dan didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) serta Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian.

Hartono menilai peningkatan kompetensi pekebun merupakan investasi untuk menjaga keberlanjutan sawit rakyat. Menurutnya, produktivitas kebun tidak hanya ditentukan luas lahan, tetapi juga kemampuan pekebun dalam mengambil keputusan mulai dari pemeliharaan hingga panen.

“Keberhasilan kebun tidak semata-mata ditentukan luas lahan yang dimiliki. Sawit yang hebat tidak lahir dari kebun yang luas, tetapi dari petani yang terus belajar,” pungkasnya.