BENGKULU,eWARTA.co -- CV Lunar Indonesia menginisiasi kegiatan launching Film “Ngayikah” yang merupakan karya komunitas film Fattah Creative Bengkulu bekerjasama dengan Balai Pelestarian Sumatera Barat dan Indonesiana TV Kemendikbud, di Bioskop Cinema 21 Mega Mall Bengkulu, Jumat (25/3/22) malam.
Launching film ini bersamaan dengan pemutaran 2 film tamu yang berjudul “Nogi 1957” dan “Kadet 1947” sebagai bentuk peringatan Hari Film Nasional 2022 yang jatuh setiap tanggal 25 Maret.
Acara ini mendapat dukungan luar biasa dari berbagai pihak baik pemerintah, perusahaan swasta, maupun komunitas seni dan para penikmat atau pembuat film.
Launching ini dibuka Walikota Bengkulu dan dapat dilanjutkan oleh kata sambutan dari Direktorat Perfilman, Kementerian Pendidikan, Kabudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, Bupati Kaur, dan Dewan Kesenian Daerah.
Selanjutnya penayangan perdana film Ngayikah dan dilanjutkan pemutaran 2 film tamu. Seluruh film telah melalui proses kurasi dan mendapatkan surat lulus sensor dari Lembaga Sensor Film Indonesia.
Seusai pemutaran film, selanjutnya dilanjutkan sesi diskusi bersama produser, sutradara, penulis naskah, dan pemain bersama para penonton.
Produser film “Ngayikah” dan “Nogi 1957”, Fatimah Liliani memaparkan proses pembuatan film dan bedah film bersama para hadirin dilanjutkan pemaparan penulis naskah merupakan penulis naskah film “Ngayikah” sekaligus founder komunitas film Fattah Creative Bengkulu, Eileena Julinda Lyana.
Para pemain Ngayikah juga hadir untuk berkenalan dengan para penonton dan juga menjadi narasumber pada sesi tanya jawab.
"Seluruh rangkaian kegiatan Hari Film Nasional Bengkulu 2022 bertemakan kebanggan terhadap menonton karya-karya film lokal di Indonesia khususnya film daerah," kata Fatimah membuka diskusi.
Pembuatan film Ngayikah ini dilatarbelakangi kondisi perfilman Bengkulu yang saat ini masih dalam tahap berkembang.
"Tentu tujuan kami untuk menginspirasi dan memotivasi insan perfilman di Bengkulu agar meningkatkan minat, bakat, dan kualitas dalam produksi yang berhubungan dengan dunia perfilman," ujar Fatimah.
Tak hanya itu, pihak produser juga berharap kedepannya ada dukungan pemerintah daerah untuk bisa lebih support atau mendukung kegiatan pembuatan film, distribusi film, acara pemutaran film hingga mengadakan acara seminar atau workshop film.
"Besarnya dukungan dari pemerintah daerah tentunya akan berpengaruh terhadap perkembangan ekosistem film daerah Bengkulu. Maka jumlah layar konvensional maupun layar alternatif ikut bertambah semakin banyak, dan menjangkau penonton hingga ke sudut-sudut daerah Bengkulu juga sekolah," papar Fatimah.
Film ini sendiri ini berkisah tentang tradisi ‘Ngayikah’ yang ada di Padang Guci, Kabupaten Kaur.
Melalui film Ngayikah, Eileena ingin mengajarkan tentang tradisi lokal dan memotivasi pemuda di Bengkulu untuk berkarya lewat film.
“Tradisi Ngayikah-kan, atau memandikan anak-anak, diarak ke sungai terus dipakaikan baju pengantin lalu mengelilingi pohon kelapa masih turun temurun dilakukan. Namun, adanya keterbatasan sang ayah dalam cerita film ini, membuat terjadinya gesekan moral antara memenuhi adat dengan cara yang dilarang adat,” ungkap Eileena. (Bisri)









