Kota Bengkulu Alami Inflasi 0,31 Persen

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu Win Rizal
Create: Thu, 01/07/2021 - 17:13
Author: Alwin Feraro

 

BENGKULU,eWARTA.co -- Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu Win Rizal menyebut pada bulan Juni 2021, Kota Bengkulu mengalami Inflasi sebesar 0,31 persen. 

Inflasi bulan ini, kata dia utamanya disebabkan oleh naiknya harga daging ayam ras, daging sapi, emas perhiasan, nasi dengan lauk, terong, mobil, tahu mentah, seng, tarif bioskop dan televisi berwarna. 

"Kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi tertinggi adalah kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 1,57 persen," kata Win, Kamis (7/1/21).

Diikuti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,73 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,66 persen, kelompok makanan-minuman dan tembakau sebesar 0,42 persen, kelompok perlengkapan-peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,40 persen.

Kemudian kelompok perumahan-air-listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,28 persen, kelompok informasi-komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,25 persen serta kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,09 persen. 

Sementara pengendali besarnya inflasi dipengaruhi dengan turunnya ikan dencis, tarif angkutan udara, harga ikan nila, jeruk, tarif kendaraan travel, harga ikan tuna, ayam hidup, petai, tarif angkutan antar kota dan harga bawang merah.

Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi, lanjutnya, adalah kelompok transportasi sebesar 0,05 persen dan kelompok kesehatan sebesar 0,03 persen. 

"Kelompok pendidikan cenderung stabil," kata Kepala BPS.

Dengan inflasi sebesar 0,31 bulan ini, maka besarnya inflasi tahun kalender atau laju inflasi sebesar 1,30 persen, dan inflasi tahunan (year on year) tercatat sebesar 1,89 persen.

Berdasarkan pemantauan BPS di 90 kota di Indonesia, 34 kota mengalami inflasi dan 56 kota mengalami deflasi. 

Inflasi tertinggi terjadi di Singkawang sebesar 1,36 persen dan inflasi terendah di Tanjung Selor dan Pekan Baru sebesar 0,01 persen. 

Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Kupang sebesar 0,89 persen dan terendah terjadi di Palembang sebesar 0,01 persen. (Bisri)