BENGKULU,eWARTA.co -- Naiknya harga bahan bakar minyak jenis Pertamax seharga Rp12.500/liter membuat konsumen di Kota Bengkulu Provinsi Bengkulu mulai beralih ke jenis Pertalite. Hal ini mengakibatkan sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) mengalami kekosongan Pertalite akibat peralihan yang signifikan.
Setidaknya pada Rabu (6/4/2022) dari pukul 09.00 WIB pagi sampai pukul 17.00 WIB pengendara sulit mendapatkan BBM jenis pertalite.
Seperti di SPBU kilo meter 8 dan SPBU Jalan P Natadirja lalu SPBU Kampung Bali. Di pintu masuk terpampang tulisan “Pertalite dalam pengiriman”, sebagai pertanda stok Pertalite sedang kosong.
Naiknya harga Pertamax per 1 April 2022 lalu membuat Yudi, selaku mahasiswa mengeluh. Bagi pengendara bermotor yang kantongnya pas–pasan, kondisi ini seakan dipaksakan hingga akhirnya membeli Pertamax.
"Waduh, modal mahasiswa, Rp10 ribu udah cukup. Tapi ini disuruh beli Pertamax, ngga sampai 1 liter, juga jadi cepet habis," kata Yudi.
Lebih lagi ini dikeluhkan oleh kalangan travel yang sehari-harinya bergantung pada BBM jenis Pertalite.
“Sejak Pertamax naik, rasanya kami selalu kesulitan untuk mendapatkan pertalite di SPBU,” keluh Karnain, seorang sopir travel.
Baginya dengan kondisi sulit seperti sekarang ini, sangat memberatkan jika harus mengisi mobilnya dengan Pertamax.
“Jangankan dapat uang dapur, kalau harus rutin membeli pertamax seperti sekarang, saya mesti nombok untuk uang jalan,” sergahnya.
Pertamina memberikan keterangan tertulis terkait hal itu. Area Manager Communication Relations dan CSR Sumbagsel, Tjahyo Nikho Indrawan menjelaskan bahwa pasokan BBM jenis Pertalite tercukupi.
Ia menjelaskan ada 1,16 kiloliter untuk bertahan hingga 15,7 hari ke depan bagi masyarakat Bengkulu.
Stok tersebut lanjutnya adalah akumulasi stok pada Terminal BBM, kilang dan instransit kapal.
“Kami pastikan stok Pertalite mencukupi. Pertamina Patra niaga menjamin pasokan BBM pada bulan ramadan dalam kondisi aman. Berdasarkan catatan kami, untuk wilayah Bengkulu ketahanan stok pertalite sekitar 4.372 KL,” kata Nikho.
Ia meminta agar masyarakat tidak perlu khawatir dan membeli BBM sesuai kebutuhan saat ini. Untuk penyesuaian harga hanya berlaku untuk BBM Non Subsidi.
Untuk BBM Subsidi seperti Pertalite yang dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat Indonesia sebesar 83 persen, tidak mengalami perubahan harga atau ditetapkan stabil di harga Rp 7.650 per liter yang mana harga menyesuaikan dengan PBBKB masing–masing daerah.
“Kami berharap masyarakat tetap memilih BBM non subsidi yang lebih berkualitas seperti Pertamax. Karena angka oktan yang tinggi ini membuat pembakaran menjadi lebih sempurna dan tidak meninggalkan residu, sangat direkomendasikan buat kendaraan sehari–hari saat ini, ” ungkapnya. (Bisri)









