BENGKULU, eWarta.co -- Warga di Jalan Selatan 3 RT 25 RW.01 Kelurahan Kandang, Kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu lahir dengan status gizi buruk berpotensi stunting.
Bayi yang bernama Achmad Syamsir Azzam, anak pertama dari pasangan WS (13) tahun dan SA (13) lahir pada 29 Januari 2023. Bayi baru berumur tiga bulan lebih itu lahir dengan berat badan 1.700 gram dengan panjang badan hanya 44 cm. Kondisi tersebut jauh dari ideal bayi lahir sehat alias normal.
Salah seorang keluarga orang tua bayi, MS (45) menyampaikan, Azzam salah satu warga Kota Bengkulu lahir dari keluarga serba kekurangan baik ekonomi maupun mental. Kedua orang tua dari bayi mengalami cacat mental, yang tengah mengenyam pendidikan di salah satu sekolah khusus bagi anak cacat mental di Kota Bengkulu.
"Azzam lahir mendapat pertolongan di salah satu rumah sakit swasta di Kota Bengkulu. Kondisi kesehatan kurang ideal dengan berat dan panjang badan rendah. Dengan kondisi tersebut Azzam ditangani pihak fasilitas kesehatan," kata MS, Rabu (17/5/23).
Ia menyayangkan terhadap kasus yang menimpa keluarga kurang mampu itu. Baik terhadap pihak sekolah yang terkesan tutup mata atas kedua siswanya yang baru belia mengalami pernikahan usia anak.
Saat ini, kesehatan bayi Azzam belum membaik dari kondisi awal dengan kekurangan gizi dan cukup memprihatinkan. "Kami hanya menunggu empati dari pemerintah yang telah menggaungkan program penanganan dan pencegahan stunting dan gizi buruk untuk mengulurkan kepedulian terhadap keluarga yang membutuhkan," harap MS
Sementara itu, Anggota DPRD Kota Bengkulu Teuku Zulkarnain yang respon meninjau langsung keberadaan bayi tersebut mengatakan Pemerintah Kota Bengkulu tengah berupaya maksimal dalam menangani kasus gizi buruk pada anak tersebut dan anak-anak kekurangan gizi lainnya.
Pada bayi tersebut, pihak rumah sakit telah membantu menangani proses bersalin, dan melakukan penangan diare yang diderita bayi Azam selama 24 hari dan memberikan susu khusus untuk memperbaiki kondisi kesehatannya.
"Selama di rumah sakit, bayi tersebut terus diberikan susu khusus untuk memperbaiki kondisi kesehatannya, juga untuk menggemukan badan sang bayi yang saat itu kondisinya mengkhawatirkan," kata Teuku.
Hanya saja beberapa hari kemudian pihak keluarga membawa sang bayi untuk melakukan perawatan secara mandiri dengan dibantu pemantauan berkala oleh Bhabinkamtibmas setempat. Tak hanya itu pemerintah kelurahan juga terus memantau perkembangan anak dengan melakukan Posyandu berkala.
"Setelah kami lakukan pengecekan, kondisi anak sudah membaik. Tidurnya sudah enak dan mudah-mudahan bisa segera teratasi kekurangan gizinya," sampai Teuku.
Sementara itu Koordinator Program Manager (KPM) Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Penurunan Stunting (P2S) Provinsi Bengkulu Yusran Fauzi mengatakan bahwa gizi buruk belum tentu stunting mengingat standar stunting itu dengan panjang bandan yang berdasarkan umur.
"Bayi dengan umur 3 bulan itu normalnya panjang badan 48 cm dengan berat badan 2.500 gram. Memperhatikan kondisi bayi tersebut dengan berat 1.700 gram dan panjang 44 cm itu pastikan stunting, karena jika dibawah itu dikategorikan BBLR atau berat badan lahir rendah,"ujar Yusran.
Terhadap hal yang terjadi pada bayi Azzam, ia menyebutkan bahwa peristiwa itu merupakan masalah serius bagi pengambil kebijakan setempat. Nah hal itu perlu penangan dari tim para pelaku penggiat stunting sangat berkepentingan. Sehingga dapat dilakukan intervensi sensitif dan spesifik.
"Bayi tersebut perlu mendapat intervensi spesifik dari pihak dinas teknis seperti dinas kesehatan untuk memberikan bantuan makan tambahan," imbuh Yusran.









