KDRT Meningkat Selama Pandemi, Cahaya Perempuan WCC Khawatirkan Mental Anak

Aktivitas Cahaya Perempuan WCC
Create: Fri, 11/09/2020 - 14:33
Author: Alwin Feraro
Tags

 

BENGKULU,eWARTA.co -- Data pelayanan Cahaya Perempuan WCC sepanjang Januari-September 2020 mencatat sebanyak 43 kasus Kekerasan Terhadap Istri. Dibanding tahun lalu hanya 34 kasus yang terjadi pada Januari-September. Didominasi oleh kasus kekerasan psikis yang berujung pada kekerasan fisik hingga penelantaran terhadap anak dan istri.

Direktur Cahaya Perempuan WCC, Tini Rahayu mengungkapkan bahwa meningkatnya kasus tersebut diakibatkan perubahan pola hubungan antara suami istri dan intensitas bertemu yang lebih sering.

“Kalo biasanya kan suami istri ini bekerja pada siang hari dan bertemu lagi pada sore hari, aktifitas mereka banyak dilakukan diluar. Sekarang polanya berbeda, intensitas semakin sering bertemu dan berada di rumah saja akibat kehilangan pekerjaan dan rentan menyebabkan seseorang mengalami penat, jenuh, dan stress. Bisa menyebabkan emosi negative timbul jika tidak dikontrol,” kata Tini di Bengkulu, Jumat (11/9/2020).

Badan Pusat Statistik Bengkulu pada bulan mei merilis adanya peningkatan jumlah pengangguran di Bengkulu yaitu 7000 orang. Hal ini tentu dampak dari pandemic Covid-19 karena sebagian besar masyarakat bekerja pada sector pertanian, swasta, dan perkebunan. 

Berdampak Pada Anak

Pandemic Covid-19 membuat anak sekolah melakukan pembelajaran via daring. Langkah ini dianggap efektif untuk mengurangi cluster baru penyebaran virus Covid-19. Namun, muncul permasalahan baru untuk menciptakan ruang aman dan menyenangkan bagi anak di rumah.

Yuni Oktaviani, Konselor Divisi Pelayanan Cahaya Perempuan WCC mengatakan, hampir semua orang yang berada di rumah mengalami stress akibat pendemic Covid-19. Ini dapat mempengaruhi hubungan antara anak dan orang tua.

“Memainkan gawai menjadi aktifitas utama hampir semua orang di rumah. Rata-rata pemicu KDRT antara suami istri ini diawali oleh obrolan yang biasa. Namun, karena orang tersebut memiliki rasa khawatir dan penat jadi memicu kekerasan. Terkadang KDRT kerap dilakukan di depan anak," ungkap Yuni.

Lebih lanjut, dalam proses konseling Yuni juga melibatkan anak untuk melihat apakah anak tersebut memiliki trauma. Yuni beralasan, sekolah daring bukan hal yang mudah dilakukan untuk anak. Tak jarang, anak kesulitan untuk mengerjakan tugas sekolah.

“Anak telah mendapat beban tugas sekolah dan membuat mereka juga stress sebaiknya orang tua dapat menjadi pendamping bagi anak. Bagi orang tua yang mengalami KDRT harus semakin dekat dengan anak, jangan diabaikan. Agar anak semangat dan termotivasi untuk melanjutkan sekolahnya,” kata Yuni. (Lica Veronika)