Dampak Pandemi bagi Para Tenaga Pengajar Honorer

Create: Thu, 16/12/2021 - 13:57
Author: Alwin Feraro

 

PAMULANG, eWARTA.CO -- Pandemi yang melanda Indonesia mengakibatkan penurunan perekonomian secara derastis. Covid-19 yang belum diketahui kapan berakhirnya ini hampir mempengaruhi segala aspek, mulai dari kesehatan, pendidikan, pekerjaan sampai perekonomian pun bisa terkena dampaknya.

Unutk meminimalisir meningkatnya penderita Covid-19 ini pemerintah meminta semua masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah, seperti belanja, liburan dan bekerja.

Situasi ini tentu membuat roda perekonomian menjadi melambat, pendapatan menurun, omzet penjualan barang ataupun jasa makin lama makin lesu, walaupun pemerintah sudah memberikan bantuan berupa dana BLT, Bansos, bahkan paket data gratis agar mempermudah proses belajar mengajar para pelajar dan mahasiswa.

Tentu saja itu belum tentu cukup untuk menopang biaya kehidupan bagi setiap individu, maka dari itu para pengusaha, pedagang, bahkan para tenaga pengajar honorer pun harus memutar otak agar tetap bisa mempertahankan usahanya dan tetap mendapatkan keuntungan walaupun belum meningkat secara signifikant,

Seperti halnya tenang pengajar honorer, walaupun memang proses belajar mengajar masih tetap bisa dilakukan secara online (daring) tetapi ada juga tenaga pengajar yang harus melaksanakan kegiatannya secara tatap muka, seperti ekskul pramuka, futsal, renang, panahan, beladiri dll.

Jika tidak melatih/mengajar ya tidak dapat upah,” kata Ilham, seorang guru pencak silat yang berkecimpung di dunia pencak silat puluhan tahun lalu.

Ilham telah mendirikan pergurun kurang lebih sekitar 10 tahun, pendapatan utamanya adalah mengajar dan melatih pencak silat di rumah maupun di tiap sekolah. Pendapatannya berkisar Rp 2,5-3 per bulan.

Jika terjadi pandemi maka otomatis semua kegiatan diberhentikan karena pemerintah tidak memperbolehkan untuk melakukan kegiatan di luar rumah dan membatasi kontak fisik dengan orang lain sehingga membuat penurunan bahkan hilangnya pendapatan dari tiap melatih.

Dari situ Ilham harus memutar otak agar bisa menafkahi keluarganya. Ia  mulai dari sesuatu yang sedang viral seperti tanaman hias dan sudah dijalankan selama beberapa bulan, setelah merasa sepertimya kurang menguntungkan karena banyak pesaing akhirnya berganti ke ikan cupang.

Cara menjualnya dengan cara menitip barangnya di warung, toko, dan membagi hasil sesuai kesepakatan dari tiap penjualan cupang tersebut, dan juga melalui sosial media salah satunya berupa facebook dengan cara memasukan dagangannya di grup, ditawarkan melalui postingan dan live fb untuk menarik minat para calon pembeli.

Perekonomian keluarga Ilham mulai stabil dengan hasil menjual ikan cupang, dan akhirnya lama-kelamaan walaupun belum sepenuhnya normal dan semua cabang belum mulai latihan kembali tapi pak Ilham sudah mulai bisa melatih anak-anak muridnya.

Penulis :  Kampus : universitas pamulang Fakultas : S1 akuntansi syariah  NIM : 171011200555

Penulis : Fahri Fais

Kampus : universitas pamulang
Fakultas : S1 akuntansi syariah 
NIM        : 171011200555