Bank Bengkulu Perkuat Literasi Keuangan dengan Sasar Pelajar

 

Bengkulu, eWARTA.co -- Berdasarkan hasil survei Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan di Provinsi Bengkulu tahun 2022, tingkat literasi keuangan masyarakat sebesar 30,39 %, masih di bawah indeks literasi keuangan nasional yang sebesar 49,68 %. Sedangkan untuk Indeks Inklusi Keuangan sebesar 88,05%, berada di atas Indeks Nasional yang 85,10%.

Trend kenaikan tersebut terus dikejar OJK mengajak perbankan untuk menyasar kalangan pelajar demi menerapkan literasi keuangan sejak dini.

Adalah PT Bank Pembangunan Daerah Provinsi Bengkulu (Bank Bengkulu), yang turut serta mendukung OJK dan turut berkontribusi dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan pelajar di daerah melalui Program Literasi Keuangan (PLK) yang dilakukan Lembaga Jasa Keuangan dan One Student One Account (OSOA) atau Satu Rekening Satu Pelajar

Direktur Bank Bengkulu Ahmad Irfan mengatakan selaku Ketua Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) sudah menjadi kewajibannya meneruskan perjuangan OJK.

Literasi keuangan yang dilakukan di sekolah-sekolah, lanjut Irfan dikemas dalam konsep sosialisasi hingga pembukaan rekening pelajar. Setidaknya hingga 2022 terdapat 1.000 rekening pelajar yang dibuka.

"Kami memberikan bekal pengetahuan dan pengalaman mengenai pengelolaan keuangan sesuai usia peserta," kata Irfan.

Program Bank Bengkulu goes to school pun digencarkan untuk memperkenalkan fungsi perbankan dan manfaat menabung ditujukan bagi pelajar SD, sementara bagi pelajar SMP dan SMA lewat Program Ayo Menabung dengan materi perencanaan keuangan.

“Kami berharap para pelajar dapat menanamkan kebiasaan pengelolaan keuangan dan menabung sejak dini. Disiplin menabung dan bijak menggunakan uang tentunya akan sangat membantu anak-anak kita menghadapi masa depan," tukasnya.

Sementara itu Kepala OJK Bengkulu Tito Adji Siswantoro mengatakan kondisi literasi keuangan masyarakat berdasarkan survei indeks inklusi keuangan tinggi, namun kesenjangannya cukup lebar dengan indeks literasinya. 

Artinya tingkat risiko kerawanan mereka yang memiliki akses keuangan masih tinggi, karena pemahaman terhadap produk-produk keuangannya masih rendah.

"Sehingga ini menjadi tugas dan upaya kita bersama bagaimana agar indeks literasi keuangan terus meningkat," singkatnya. (Adv/red)