BENGKULU,eWARTA.co -- Sidang paripurna istimewa peringatan hari ulang tahun Kota Bengkulu ke-302 dilaksanakan di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bengkulu, Rabu (17/3/2021) pagi.
Hadir di sidang paripurna Staf Ahli Gubernur Provinsi Bengkulu Bidang Pemerintahan Hukum dan Politik Oslita, Wali Kota Bengkulu Helmi Hasan, Wakil Wali Kota Dedy Wahyudi, Pimpinan, Anggota dan Sekretariat DPRD, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, Persatuan Veteran, Purnawiranwan, Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat serta perwakilan dari Pemkab se-Provinsi Bengkulu.
Paripurna dipimpin Ketua DPRD Suprianto, Ia menjelaskan perkembangan Kota Bengkulu dari masa ke masa hingga latar belakang berdirinya Kota Bengkulu.
Kota Bengkulu memiliki catatan sejarah yang sampai saat ini masih dikenang oleh Dunia, berdasarkan peraturan daerah nomor 1 Tahun 1991, Kota Bengkulu secara resmi ditetapkan pembentukannya sejak tanggal 17 Maret 1719 yaitu setelah Deputi Gubernur Inggris diperkenankan oleh Rajo-rajo Bengkulu untuk balik ke ujung karang. Namun sebelum kembali, terlebih dahulu pemerintah Inggris dipaksa untuk mendirikan pusat perdagangan yang dikasih nama pasar Malabro, yang lazim disebut oleh orang Bengkulu pasar Malabro atau disingkat Brokoto, sebagai cikal bakal Kota Bengkulu.
Sebelum Inggris datang ke Bengkulu, sudah ada kerajaan-kerajaan yaitu kerajaan Sungai Serut, dan Kerajaan Sungai Lemau. Kerajaan Sungai Serut didirikan oleh Bintang Roano terkenal dengan gelar Ratu Agung, sedangkan Sungai Lemau dengan rajanya datuk baginda maharaja sakti yang berasal dari Kerajaan Pagarutung Sumatera Barat.
"Kerajaan Sungai Serut terletak di Bengkulu tinggi yang kini bernama bukit yang letaknya di Kampung Kelawi kecamatan Sungai Serut kini,” kata Suprianto menceritakan Sejarah Kota Bengkulu didepan tamu undangan di dalam ruang sidang paripurna.
Lebih lanjut diceritakannya bahwa, Ratu Agung memiliki 7 orang anak yang bernama, Raden Cilli, Manuk Micor, Lemang Batu, Tajuk Rumpun, Rindang Papan, Anak dalam Muara Bangkahulu, dan Putri Gading Cempaka. Anak ketujuh dari Ratu Agung yang bernama Putri Gading Cempaka ini memiliki wajah yang sangat cantik, dan kecantikannya pada saat itu tersohor sampai ke negeri Aceh.
Akhirnya putra raja Aceh datang untuk meminang putri Gading Cempaka. Dan setelah melakukan lamaran, Putra rajo Aceh ini diterima oleh Ratu Agung, mendapatkan kabar gembira akrhinya Putra Rajo Aceh ini kembali dulu ke negerinya. Akan tetapi sewaktu Putra Rajo Aceh hendak melangsung pernikahan mendapatkan musibah yang tak dapat dielak, karena secara mendadak ayahanda Putri Gading Cempaka yakni Ratu Agung wafat. Karena kerajaan Sungai Serut masih dalam keadaan berduka maka rencana pernikan terpaksa ditolak oleh kakak Putri Gading Cempaka yang bernama Raja Anak Dalam Muara Bangkahulu yang menjadi pengganti ayah menjadi raja Sungai Serut.
Karena kecewa mendapatkan penolakan itu rupanya membuat Putra Raja Aceh sangat tersinggung dan terjadilah perang. Tapi karna lawan tak seimbang, maka kerajaan Sungai Serut cuma mampi bertahan sambil membuat empang atau blokade ke hulu sungai.
"Tentara Aceh dapat dikalahkan dan akhirnya balik ke Aceh. Keberhasilan membuat empang ke hulu inilah akhirnya diabadikan menjadi Bangkahulu yang sesudah kemerdekaan disebut Bengkulu, peristiwa ini terjadi tahun 1615. Dan akhirnya Putri Gading Cempaka dipinang oleh Datuk Bagindo Maharajo Sakti dari Kerajaan Pagaruyung Sumatera barat,” sampainya sambil menggunakan bahasa Bengkulu asli.
Singkat cerita, pada Tahun 1714 sampai Tahun 1918, Inggris dibawah deputi geubernur East India Company yaitu Yoseph Collet membangun Fort Marlborought di ujung karang,akan tetapi diusir oleh rakyat Bengkulu yang dipimpin oleh Pangeran Jenggalu.
Tetapi pada tahun 1923 Rajo Sungai Lemau memberikaniozin lagi ke Inggris untuk balik ke Bengkulu dengan syarat hanya diperbolehkan mendirikan pusat perdagangan di sekitar Benteng Marlboroght. Yang saat ini pasar itu diberi nama pasar Marlbro atau disingkat Brokoto. Sejak itulah lamo kelamoan besatu dengan pasar malabero dan akhirnya menjadi Kota Kecil yang disebut Bencoolen, yang setelah kemerdekaan RI menjadi Bengkulu.
“Harapan kita dengan momentum peringatan hari jadi Kota Bengkulu ini, kita buat sebagai wahana untuk mengenang dan mengambil hikmah dari serangkaian perjalanan historis berdirinya Kota Bengkulu yang penuh dengan perjuangan, keterbatasan, tantangan dan segala macam hambatan,” tutur Suprianto.
Apalagi, tantangan ke 302 tahun Kota Bengkulu, di mana banyak hal yang harus di evaluasi dan dibangun bersama pasca adanya pandemi COVID-19 yang mengubah tatanan hidup masyarakat, perekonomian dan pola laku menempuh era normal baru.
"Kita wujudkan Bengkulu tangguh, religius, sehat, bebas COVID-19," kata Suprianto.
Sementara itu, Wali Kota Helmi Hasan menjelaskan beberapa pencapaian Kota Bengkulu, mulai dari beberapa penghargaan yang diraih, upaya penanganan pengendalian pandemi COVID-19, dan prestasi APBD untuk rakyat.
"Di tahun sebelumnya, Kota Bengkulu raih penghargaan sebagai kota peduli HAM dari Kementerian Hukum dan Ham, penghargaan IGA sebagai kota sangat inovatif dari Kementerian Dalam Negeri, sebagai penyelenggara pelayanan publik terbaik dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi dan sebagainya," kata Helmi.
Kemudian turut dipaparkan prioritas anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) untuk rakyat demi kesejahteraan masyarakatnya. Di mana kata Helmi, pembangunan infrastruktur perkotaan, perbaikan pendidikan, perhatian sosial dan penanganan pandemi COVID-19 tertuang di dalamnya.
“Kami terus prioritaskan APBD untuk rakyat, sebagaimana komitmen kami untuk memberi kesejahteraan pada masyarakat. Melalui APBD, Pemkot hadirkan program-program yang memberi manfaat untuk masyarakat seperti program 1000 jalan mulus, gerakan peduli yatim, HD Oto dan program lainnya," ujarnya.
Selebihnya, ia mengajak masyarakat terus menyukseskan program pemerintah di mana menjadi Bengkulu tangguh, religius, bersih, sehat, dan bebas dari COVID-19. (Bisri/Adv)









