Bengkulu, eWarta.co -- Gejolak pasar keuangan nasional berpotensi menekan perekonomian daerah, termasuk Bengkulu, melalui pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan biaya produksi. Pengamat Ekonomi Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Andi Azhar, Ph.D., mengingatkan tekanan tersebut dapat memengaruhi harga barang, daya beli masyarakat, hingga keberlangsungan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Andi menilai persoalan pasar modal tidak hanya berkaitan dengan pergerakan saham, tetapi juga kepercayaan investor terhadap tata kelola pasar keuangan Indonesia. Ia menyoroti penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dilaporkan anjlok lebih dari 11 persen dalam sehari, bersamaan dengan pelemahan rupiah yang disebut menembus Rp18.000 per dolar AS.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian investor adalah usulan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk meninjau klasifikasi pasar saham Indonesia dari kategori emerging market menjadi standalone market. Meski belum menjadi keputusan final, rencana tersebut dinilai dapat mendorong investor mengurangi kepemilikan saham untuk mengantisipasi risiko.
“Pasar tidak menunggu keputusan. Pasar bereaksi terhadap risiko,” ujarnya.
Menurut Andi, gejolak tersebut tidak otomatis menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia telah runtuh. Namun, transparansi kepemilikan saham, tata kelola pasar modal, dan dugaan praktik perdagangan terkoordinasi perlu ditangani melalui pembenahan regulasi, keterbukaan informasi, serta penegakan hukum.
“Pasar tidak butuh pernyataan optimistis lagi, pasar butuh kasus yang dituntaskan,” tuturnya.
Bagi Bengkulu, dampak langsung dari gejolak pasar saham mungkin terbatas, tetapi pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya barang dan bahan baku yang bergantung pada impor. Kenaikan biaya berpotensi terjadi pada pakan ternak, pupuk tertentu, bahan baku industri makanan, serta pengadaan bahan bakar nonsubsidi.
Jika biaya produksi dan distribusi meningkat, pelaku usaha berpotensi menaikkan harga jual sehingga masyarakat harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tekanan tersebut juga dapat mengurangi kemampuan UMKM mempertahankan produksi dan operasional, terutama jika akses pembiayaan semakin ketat.
“Pelaku UMKM juga bisa merasakan bank lebih berhati-hati menyalurkan kredit dan biaya dana cenderung naik,” katanya.
Di sektor komoditas, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan nilai penerimaan dalam rupiah dari produk berorientasi ekspor, seperti kelapa sawit, karet, dan kopi. Namun, keuntungan tersebut belum tentu meningkatkan pendapatan petani apabila kenaikan harga pupuk, bahan bakar, transportasi, dan kebutuhan produksi lainnya ikut membebani biaya usaha.
“Pelemahan rupiah belum tentu menguntungkan petani kecil, sebab kenaikan biaya input lebih cepat terasa daripada selisih kurs,” ujarnya.
Andi meminta pemerintah daerah mengantisipasi dampak lanjutan dengan memantau ketersediaan dan harga pangan, menjaga kelancaran distribusi, serta memastikan UMKM tetap memiliki akses pembiayaan. Masyarakat juga diimbau mengatur pengeluaran, menjaga arus kas, menyiapkan dana darurat sesuai kemampuan, dan tidak mengambil keputusan keuangan secara terburu-buru karena kepanikan pasar.
Menurut Andi, Indonesia perlu memperkuat transparansi pasar modal, membuka informasi kepemilikan manfaat saham, dan menindak praktik manipulasi pasar untuk memulihkan kepercayaan investor. Ia mengingatkan gejolak pasar keuangan belum tentu langsung menjadi krisis ekonomi riil, tetapi dampaknya dapat meluas apabila kepercayaan tidak segera dipulihkan, katanya.










