BENGKULU, eWarta.co – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Bengkulu anjlok tajam hanya dalam sehari setelah pernyataan Presiden terkait kebijakan ekspor CPO dan batu bara satu pintu melalui BUMN. Kondisi ini membuat petani sawit mulai terpukul karena harga di tingkat pabrik dan petani turun drastis.
Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit (APKS) Bengkulu, Edy Mashuri mengatakan harga sawit yang sebelumnya berada di kisaran Rp3.200 per kilogram kini merosot menjadi Rp2.400, bahkan ada pabrik yang membeli di angka Rp2.200 per kilogram. Di tingkat petani, harga sudah menembus di bawah Rp2.000 per kilogram.
“Dalam satu malam itu dua kali turun Rp500-Rp500. Jadi penyebabnya bukan masalah dolar, tapi pidato presiden tanggal 20 tentang ekspor CPO dan batubara satu pintu yang diserahkan kepada BUMN,” kata Edy, Jumat (22/5/2026).
Menurutnya, pasar global merespons negatif kebijakan tersebut karena dunia perdagangan internasional cenderung tidak menyukai birokrasi yang panjang dan lambat. Ia membandingkan situasi saat ini dengan kebijakan larangan ekspor sawit pada era Presiden Jokowi yang sempat membuat harga sawit jatuh hingga Rp2.000 per kilogram.
“Dunia perdagangan global itu alergi dengan pemerintah, apalagi BUMN. Mereka maunya pelayanan cepat, tepat, tidak menunggu, dan birokrasi tidak berbelit-belit,” ujarnya.
Edy menilai niat pemerintah sebenarnya baik untuk menata tata kelola ekspor dan menutup kebocoran penerimaan negara akibat manipulasi data ekspor. Namun, ia pesimis mekanisme satu pintu melalui BUMN mampu bersaing dalam perdagangan internasional yang membutuhkan kecepatan layanan.
“Sebenarnya bagus niat pemerintah itu, tapi kita pesimis dengan BUMN. Kalau pelayanan lambat, pembeli luar negeri bisa pindah ke negara lain. Dampaknya harga sawit kita makin anjlok,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa sektor yang paling terdampak dari kebijakan tersebut adalah petani di sektor hulu. Di tengah penurunan harga sawit, biaya produksi justru terus meningkat, termasuk harga pupuk yang melonjak tajam.
“Borat dari Rp460 ribu sekarang sudah Rp1,3 juta. Waria sudah Rp760 ribu. Jadi objek penderita kebijakan ini petani sawit,” tegasnya.
Sementara itu, penurunan harga TBS juga terlihat dari pengumuman sejumlah pabrik kelapa sawit di Bengkulu pada Jumat malam. PT MMIL, PT KAS, PT GSS, dan PT KSM kompak menurunkan harga Rp500 menjadi sekitar Rp2.100 hingga Rp2.160 per kilogram.
Bahkan, PT USM Mukomuko menurunkan harga hingga Rp600 menjadi Rp1.920 per kilogram, sedangkan PT Muara Sawit Lestari menurunkan harga Rp700 menjadi Rp1.880 per kilogram.
APKS Bengkulu khawatir kebijakan ekspor satu pintu akan memunculkan efek “bottle neck” atau kemacetan distribusi ekspor yang berdampak panjang terhadap harga sawit nasional.
“Kalau nanti semua ekspor terpusat di satu pintu besar, kita takut terjadi efek leher botol, mampet di ujung. Dan kalau sudah mampet, dampaknya lama dirasakan petani,” tutup Edy.









