Harga Sawit di Mukomuko Turun hingga Rp300/Kg, Petani Keluhkan Pidato Kebijakan Ekspor Lewat BUMN

Create: Thu, 21/05/2026 - 14:45
Author: Admin 3

 

 

Bengkulu, eWarta.co -- Penurunan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit mulai dirasakan petani di berbagai daerah usai pengumuman Presiden Prabowo Subianto terkait pembentukan BUMN ekspor komoditas strategis. Sejumlah petani sawit mengaku kelimpungan setelah banyak pabrik pengolahan sawit memangkas harga pembelian hanya sehari setelah pengumuman tersebut.

Di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, beberapa perusahaan pengolahan sawit resmi mengumumkan penurunan harga TBS mulai Kamis, 21 Mei 2026. Penurunan harga itu langsung memicu kekhawatiran petani karena berpengaruh terhadap pendapatan harian mereka.

Supplier TBS PT Sapta SJA yang berlokasi di Desa Lubuk Pinang mengumumkan harga TBS turun Rp250 per kilogram menjadi Rp2.490 per kilogram. Dalam pemberitahuannya, manajemen perusahaan meminta petani membawa buah dengan kualitas baik dan menolak TBS mentah, busuk, hingga tandan bertangkai panjang.

Sementara itu, PT Muara Sawit Lestari (MSL-L) wilayah Mukomuko melalui CV Gading Makmur juga menetapkan penurunan harga sebesar Rp300 per kilogram. Harga TBS kini menjadi Rp2.580 per kilogram dan harga berondolan ikut turun dengan nominal yang sama.

Salah seorang petani sawit Mukomuko, Arif Saputra, mengaku penurunan harga tersebut cukup mengejutkan karena terjadi secara mendadak. Menurutnya, kondisi ini membuat petani semakin sulit menutupi biaya operasional kebun yang terus meningkat.

“Baru sehari setelah pengumuman soal BUMN ekspor itu, harga langsung turun. Kami petani tentu bingung karena pendapatan langsung berkurang, sementara pupuk dan biaya panen tetap tinggi,” ujar Andi, Kamis (21/5/2026).

Hal senada disampaikan petani lainnya, Rudianto, yang berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga sawit di tingkat petani. Ia menilai kebijakan nasional seharusnya tidak membuat petani kecil menjadi pihak yang paling terdampak.

“Kalau harga terus turun, petani kecil yang paling berat. Kami berharap ada penjelasan dan solusi dari pemerintah supaya harga sawit tidak anjlok terus,” katanya.

Selain mengeluhkan harga yang turun, para petani juga mengaku khawatir apabila kondisi ini berlangsung dalam waktu lama. Mereka berharap pemerintah pusat maupun daerah dapat turun tangan menjaga kestabilan harga sawit agar ekonomi petani tetap bertahan.