Habis Arang Terbitlah Pandemi, Kedai Sle Menolak Mati

 

BENGKULU,eWARTA.co -- Kedai ukuran 5x6 meter di sudut Pantai Panjang Bengkulu itu terbakar Kamis 7 Maret 2019 subuh. Bau serbuk kopi kaki gunung bungkuk merebak bersama kepulan asap, membumbung seirama asa pemiliknya, Bagus Sle.

Setelah bertahan hampir 7 tahun di Kedai Sle miliknya, akhirnya keadaan memaksa lelaki paruh baya ini enyah dari wilayah peperangannya. Pasang surut usaha mikro kecil menengah (UMKM) miliknya telah mengajarkan arti kesusahan. Tak habis pikir, 'sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang' terlintas dalam hatinya saat mengumpulkan energi yang tersisa.

Bagus mengemasi piring, gelas dan kursi yang tersisa dari kebakaran itu. Niatnya untuk pulang ke rumah sebuah keraguan. Sebab selama usahanya berdiri, Ia jarang sekali pulang ke rumah dan memilih tinggal bersetubuh bersama gubuk sederhana. 

Bangunan berkonsep rumah nelayan itu memiliki arti sesederhana berusaha. 

Memiliki tekad dan berbekal keahlian meramu kopi tradisional, sudah cukup bagi Bagus untuk memulai mendirikan UMKM di tengah badai perdagangan bebas. 

Meski banyak kedai-kedai moderen berdiri di sekelilingnya, Bagus tetap memiliki konsumen setia. Penikmat Kopi khas Bengkulu, atau paradigma pecinta kopi yang selalu disusupi oleh kosa kata penggugah kejantanan dengan label Kopi Sle miliknya. Tak jarang wisatawan luar mampir hanya untuk mencicipi kopi dengan racikan rempah-rempah yang dibajet Rp10 ribuan itu. 

Pengakuan orang-orang yang singgah di kedai ini, terbersit tiga rasa berbeda dalam satu cangkir kopi. Saat panas, setengah panas maupun diseruput melalui sedotan berbahan kayu manis, kopi Sle ampuh mencandui penikmatnya. 

Hanya resep kopi tradisional inilah yang ia bawa kemanapun berkelana. Kopi inilah yang membuat dirinya diterima masyarakat di manapun berada. Sehingga untuk mati lebih muda, Bagus tak memiliki nyali.       

Bangkit dan Tertatih

Setengah tahun berlalu, menulis menjadi kegiatan Bagus mengisi kekosongan. Mulai jenuh. Terpikir lagi ingin memulai usaha. Namun modal saja sudah tak ada. 

Berhari-hari Ia berharap ada rekan yang sedia membantu membiayai usahanya. 

Namun tak ada satupun yang sanggup menghidupkan lagi Sle. Sebab masa pandemi, jangankan untuk membuka usaha baru, untuk makan saja sudah menjadi kecukupan.  

Namun ikhtiar terus dilakukan hingga akhirnya seorang teman, AA menawarinya bekerjasama. 

AA yang memiliki keahlian di bidang masakan Khas Aceh mencoba mencari peruntungan dengan mengajak Yuarto mendirikan kedai semi moderen. 

Mie Aceh, Kopi Sle. 

Memadukan dua kuliner beda daerah menjadikannya memiliki nilai jual lebih. Apalagi berlokasi di pusat pendidikan sekolah tinggi yang tentu akan membawa keuntungan berlipat bagi usahanya. 

Keduanya pun memutuskan untuk mencari sebuah ruko murah di Belakang kampus Unib. Selain bisa menjadi objek mahasiswa mencari makanan murah dan menjadi tempat santai--kebiasaan mahasiswa, strategi ini untuk mengenalkan bahwa dua kuliner khas dapat bersaing di tengah zaman.

Setelah berjalan dua bulan, perkiraan AA dan Bagus salah. 

Pandemi COVID-19 tak mengubah apa-apa selain menguji kesabaran. Kedai yang di sewanya sepi dari pengunjung. Ekonomi Bengkulu yang tumbuh lesu selama 2 periode triwulan ditambah pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Level I, memojokannya pada keputusasaan. Terkhusus AA yang memang umurnya masih labil menjalani kehidupan berwirausaha.

Bulan berikutnya, kondisi kedai tetap sepi. Tak ada satu-dua orang yang singgah selain teman setia. Hal ini jauh berbeda saat Kedai Sle berdiri kokoh di hamparan Pantai Panjang. 

Bagus ingat betul saat kondisi normal, usahanya bisa meraup untung Rp100ribu hingga Rp250 ribu perhari. 

Sampai tiba pandemi COVID-19 yang memangkas pemasukannya menjadi 30 persen perharinya. Juga sampai ramainya usaha kecil-kecilan yang Ia buat justru membuat seseorang iri dan membakar lapaknya.

Kondisi dan pandemi lalu mengajarkan manajemen bisnis yang kuat. Tapi apa daya, dengan keterbatasan yang Bagus miliki, hubungan keduanya pun kandas dan memutuskan berhenti bekerjasama. 

Hidup Kembali

Akhir 2021 sepertinya menjadi waktu yang bagus untuk membuat keputusan. Hal ini dibarengi dengan trend pandemi COVID-19 yang mulai melandai, seakan berhenti menyebar di Kota Bengkulu.  

Dalam kondisi sendiri, Bagus terlintas untuk bangkit sejalan dengan pemulihan ekonomi yang digembar-gemborkan pemerintahan. Meski masih tanpa modal, bayangan menjadi pengusaha terlintas di benaknya. 

Bagus kemudian menjajakan usahanya kepada kerabat dan teman-teman yang percaya padanya. Konsep investor ia cantumkan dalam pembukaan lapak baru di pusat kawasan ekonomi khusus Pelabuhan Pulau Baai. 

Dengan membuat pengumuman di medsos yang dia punya, Bagus membuka peluang untuk masyarakat umum menjadi investor dengan nilai minimal investasi sebesar Rp 1 juta maksimal 5 juta. Dalam waktu 3 hari terkumpul sejumlah modal yang diinginkan, yaitu Rp20 juta dari 8 orang investor. 

Tepat di tanggal cantik, 21-11-21 Kedai Republik Sle milik Bagus kembali berdiri. (Bisri)