BENGKULU, eWarta.co – Selasa (10/2/2026) menjadi hari bersejarah bagi Universitas Bengkulu (Unib). Gedung Serba Guna (GSG) menjadi saksi bisu pengukuhan enam Guru Besar baru, sebuah pencapaian yang kian memperkokoh posisi Unib sebagai lumbung intelektual di Sumatera.
Momen ini terasa istimewa karena sang nahkoda kampus, Prof. Dr. Indra Cahyadinata, S.P, M.Si., turut dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Sosial Ekonomi Pertanian. Suasana haru dan bangga menyelimuti ruangan saat Ketua Senat, Prof. Dr. Herawan Sauni, S.H, M.S., memasangkan samir kehormatan kepada sang Rektor, yang kemudian dilanjutkan dengan pengukuhan lima sejawat profesor lainnya.
Daftar "Enam Pendekar" Akademik Baru Unib
Dengan bertambahnya enam profesor ini, Unib kini memiliki total 89 Guru Besar. Berikut adalah profil singkat mereka:
1. Prof. Dr. Indra Cahyadinata, M.Si Sos-Ek Pertanian Pertanian
2. Prof. Dr. Ir. Irnad, M.Sc Sos-Ek Pertanian Pertanian
3. Prof. Dr. Ir. Rustikawati, M.Si Pertanian Lahan Kering Pertanian
4. Prof. Dr. Wisma Yunita, M.Pd Pengajaran Bahasa Inggris FKIP
5. Prof. Dr. Jose Rizal, M.Si Matematika Terapan FMIPA
6. Prof. Dr. Drs. Sugeng Suharto, M.Si Kebijakan Publik
Keenam profesor tidak hanya datang untuk menerima gelar, tetapi juga membawa "oleh-oleh" riset mendalam. Beberapa poin menarik dari orasi ilmiah mereka antara lain:
Peringatan Dini: Prof. Jose Rizal memukau hadirin dengan pemodelan risiko Gempa Bumi Megathrust di Zona Sumatera—sebuah isu krusial bagi keselamatan warga pesisir.
Ketahanan Pangan: Prof. Rustikawati menawarkan solusi Bioteknologi untuk pertanian di lahan kering.
Ekonomi Pesisir: Prof. Indra Cahyadinata membedah strategi pengelolaan Kepiting Bakau yang berkelanjutan, sementara Prof. Irnad menelisik loyalitas profesi nelayan Bengkulu.
Layanan Publik: Prof. Sugeng Suharto menyoroti pentingnya kemitraan publik-privat dalam mengelola pasar modern.
Pesan Rektor: "Profesor Bukan Garis Finish"
Dalam sambutannya, Prof. Indra Cahyadinata menyelipkan pesan mendalam sekaligus jenaka. Mengutip Socrates, ia mengingatkan bahwa hidup yang tidak diuji tidak layak dijalani.
"Gelar profesor bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Kalau dulu pusing revisi dari pembimbing, sekarang pusingnya karena revisi dari reviewer jurnal internasional yang komentarnya bisa belasan halaman!" kelakarnya disambut tawa hadirin.
Beliau menegaskan bahwa di era AI dan disrupsi teknologi, profesor harus menjadi penjaga marwah keilmuan yang solutif. Ilmu yang dihasilkan tidak boleh hanya "terpenjara" di perpustakaan, tapi harus bisa dirasakan manfaatnya oleh petani, guru, dan pelaku usaha.
Tiga Pesan Utama Rektor:
* Jaga Integritas: Menjadi teladan moral di masyarakat.
* Perkuat Kolaborasi: Tidak bekerja di dalam menara gading sendirian.
* Wariskan Inspirasi: Melahirkan generasi penerus yang lebih hebat dari dirinya sendiri.
Acara yang juga disiarkan melalui live streaming ini dihadiri oleh jajaran Forkopimda Bengkulu, mitra perbankan, serta kolega yang memberikan dukungan penuh bagi kemajuan pendidikan di Bumi Merah Putih. (**)









