DPK Provinsi Bengkulu Gelar Dialog Kebangsaan, Napak Tilas Dua Abad Traktat London 1824

 

Bengkulu, eWarta.co -- Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan menggelar dialog Dialog Kebangsaan bertema saatnya Bengkulu ke pentas dunia melalui Napak Tilas Dua Abad Traktat London 1824, bertempat di Gedung Balai Raya Semarak Bengkulu pada Selasa (8/11/2022).

dalam kegiatan tersebut menghadirkan dua pembicara yakni Dr. HM. Faisal Manaf dan Prof. Dr. Nina Herlina Lubis, MS.

Kepala Dinas Perpustakaan dann Kearisipan Provinsi Bengkulu, H. Meri Sasdi mengatakan, napak tilas ini merupakan titik awal bagi Pemprov melangkah untuk meletakkan dokumen-dokumen penting terkait Bengkulu, sehingga nantinya orang bisa mengetahui jika Bengkulu ini sangat luar biasa.

“Kita dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Bengkulu menargetkan untuk mengembalikan dokumen-dokumen penting terkait Bengkulu. Apalagi dokumen-dokumen itu juga yang nantinya bisa menjadi modal pembangunan di Bengkulu. Walaupun upaya yang dilakukan pihaknya tidak lepas dari amanah UU No 43 tahun 2009 tentang kearsipan,” ujarnya.

Selain itu juga dijelaskan, dengan napak tilas ini sebagai wadah Pemprov menelusuri arsip-arsip statis terkait keberadaan Bengkulu, sehingga kedepan Bengkulu dapat lebih berperan, bukan hanya sebatas tingkat nasional saja, tetapi juga internasional.

"Melalui kajian-kajian para pembicara, pasti kita bisa menggali sejarah Bengkulu. Termasuk juga peran pentingnya dalam sejarah bangsa," ujarnya.

Sementara itu, Staff Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan Hukum dan Politik, Supran, SH, MH mengatakan, Provinsi Bengkulu dalam kurun waktu 1685 hingga 1824 berada dibawah wilayah Koloni Inggris. Tetapi kekuasaan Inggris berakhir setelah Kerjaan Inggris dan Kerajaan Belanda mencapai kesepakatan politik tentang wilayah kekuasaan mereka di Hindia Timur.

"Seiring dengan penandatanganan traktat London 17 Maret 1824, tentu saja ini bisa kita jadikan momentum yang tepat bagaimana menata Bengkulu kedepan, karena dulu dijajah Inggris dan Belanda. Apalagi jejak sejarah berupa artefak di Bengkulu, tidak dapat menghidupkan kisah dibalik megahnya sejarah. Itu lah gunanya napak tilas," tukasnya. (Adv)